Jumat, 30 Mei 2014

(e)R A (e)S A

Tentangmu tercipta sebuah rasa. Rasa itu ada karenamu. Kau yang menumbuhkan rasa itu. Entah rasa apa, jeruk mungkin. Yang bisa menciptakan asam manis dihatiku. Rasa kadang bisa mengalahkan segalanya. Hanya sebatang korek api kecil, bisa melahap habis sebuah bangunan, begitu juga setetes rasa, bisa meluluhlantahkan jiwa. Terlalu berlebihan, itu juga sebab rasa yang menggelayut bergelantungan dalam jiwa. Rasa, rasa dan rasa. Karena rasa, manusia punya banyak cerita :-) ada rasa asam, manis, pahit dan hambar, membumbui perjalanan hidup ini. Rasa sayang, rasa cinta, rasa benci, rasa marah, rasa iba, rasa empati, hingga es krim rasa coklat :D . Hati-hati dengan rasa, karena rasa bisa membodohkan orang yang jenius sekalipun, membakar rumah eskimo, membekukan inti bumi B-) . Dan akhir kalam, bersyukurlah karena kita masih mempunyai rasa :-).


Haha, ada pujangga turun dari ranjang.
Yaa, berbicara soal rasa, apalagi rasa cinta yang tiba-tiba muncul. Eits, ngomong CINTA, emang elu tau cinta itu apa dan bagaimana (mungkin dia salah satu makanan ringan yang mirip sama kebab turki isi daging kambing kali ya :D ). Ah, sok jadi anak muda aja ngomongin cinta, qiqiqiqi. Kata orang (bukan kata aye -_-). Cinta itu bisa bikin orang yang jatuh cinta serasa ada kupu-kupu dalah hatinya (naah loo, bawa virus liver baru tau rasa lu :p ). Pemuda sekarang (aye pemuda jaman dahulu ^_^ ), dikit-dikit bilang cinta, I Love You (padahal kalo pake simple present, itu bisa jadi I (will) Love You, I (always) Love You, bahkan I (never) Love You, nah loo :p . Aku tak bisa hidup tanpamu (gombal yang kaga pernah dicuci), emang cinta itu nafas ? Yang punya kehidupan siapa ? Yang Punya Cinta kan, bukan yang dianugerahi rasa cinta. 
Sering baca buku tentang arti cinta, tapi akhirnya tetep aja aye belum paham, Ma Huwa Hubb ? . 
Yang lagi ngetrend sih "Cinta itu tak bersyarat, tidak mengenal kata Jika", Cinta tanpa syarat. Cinta yang tidak bisa didefinisikan.
Ntahlah, cinta dengan manusia itu masih membuat aye bingung. Yang pasti, jangan sampai tidak Cinta Kepada Sang Pemilik Cinta, karena Dia-lah cinta yang hakiki. Dan cinta kepada Rasul-Nya, Sang Penerang Kegelapan :))
Cintailah terlebih dahulu Yang Menciptakan, lalu mencintai yang Diciptakan, from active to passive <3
Share:  

Selasa, 20 Mei 2014

Bagaimanapun, Tetap Bersyukur :))

20 Mei,
Antara sedih, kecewa dan bahagia, melimpah ruah dalam hati dan fikiran. Bagaimana tidak, hari ini benar-benar hari penentuan hasil belajar selama 3 tahun ini dijenjang Sekolah Menengah Atas. Bukan ini sebenarnya tujuan utama, namun apalah daya, saya hanya manusia biasa yang jauh dari sifat zuhud. Kata "Lulus" merupakan satu kata penting, namun bukan prioritas. Bagaimana tidak, jika saya gagal, saya akan mengecewakan seluruh dunia, terutama orang tua yang telah susah payah mengeluarkan usaha jiwa raga dan finansial untuk keberlangsungan pendidikan saya. Bagaimana tidak, kakak saya, telah gagal dalam UN ditahunnya, hal itu sangat membuat orang tua terpukul, dan alhamdulillah saya bisa sedikit mengobati itu, meskipun dengan hasil yang bisa dikata jauh dari memuaskan.
Lulus saja saya sudah sangat bersyukur, anda bisa bayangkan, kemampuan otak saya yang sangat pas-pasan dalam bidang sains ini, nekat untuk mengerjakan soal-soal UN dengan murni, teman yang pandai sekalipun masih sedikit menggantungkan pada 'kertas hitam', bagaimana dengan saya ? . Melihat nilai yang selalu istiqomah dari Try Out 1 sampai UN berakhir, yang statis diangka 4,5,6 dan 7 sangat miris, tapi inilah kemampuan saya. Melihat teman yang nilainya gemuk-gemuk (=baca 8,9 bahkan 10) sedikit ada rasa 'marah' yang bergelayutan, apakah mereka benar-benar murni ? Entahlah, tak boleh su'udzon.
Apakah penting nilai UN yang gemuk-gemuk itu ? Jika mendapatkannya dengan hasil yang bathil ? Wallahu a'lam :) . Hingga ada teman saya yang bercerita, ketika dia mengabarkan kabar kepada orang tuanya bahwa dia lulus dengan nilai yang baik, orang tuanya malah berkata "Ayah tidak butuh nilai UN mu baik, ayah butuh nilai Akhlakmu yang baik ". (Naah loo).
Saya menarik hipotesis bahwa sebagian orang tua akan bangga jika anaknya mendapat nilai Akhlak dan karakter yang baik, apalagi ditambah dengan nilai UN yang bagus, mereka akan lebiih bangga. Seperti orang tua saya yang selalu berkata "Kami tak butuh nilaimu bagus, kami hanya ingin ilmumu manfaat dunia akhirat, karena kami hanya bisa mewariskan ilmu dengan menyekolahkanmu sampai tinggi, bukan harta yang kami warsikan, tapi ilmu :)".
Terakhir, bagaimana pun hasilnya, tetap bersyukur, Allah masih sayang kita, dengan menjauhkan kita dari hal yang Bathil dan selamat buat kalian yang berhasil berperang dengan nafsu :)
Oiya, ada yang ulang tahun ke Tujuhbelas hari ini, selamat ya sayaang :-*, semoga semakin dewasa dan always be the best :))
Share:  

Senin, 19 Mei 2014

Tentangmu Dua belas IPA Lima :)

Tentangmu, duabelas IPA lima

Awal ku menapaki jejak di Bahrul Ulum, aku menemukan kalian, Sepuluh Sembilan. Bersama Bapak tora, melewati masa peralihan dari sekolah menengah pertama. Beradaptasi dengan dunia pesantren yang penuh barokah. Menangis, pengen pulang, pengen boyong. Mewarnai hari-hari pertama kita. Saling mengenal dan memahami satu sama lain, bercekcok, beda pendapat, tidak suka, mbatin, dan hal-hal lain yang menjadi bumbu perjalanan kita. Outbond, PIL, merekatkan persaudaraan kita.

Sebelas IPA Lima, di bawah asuhan Ibunda Catur yang super disiplin dan energik, kita ditempa untuk menjadi Siswa IPA yang ilmiah. Bertemu dengan new comer. Romie, Mual, Nida, Rizka, Dewi dan Intan yang lucu-lucu. Membuka pintu lebar untuk mereka. Namun, kita juga harus berpisah dengan teman-teman yang menyenangkan, Dani, Rizki, Ani yang kata kalian sudah masuk Islam, Wiwin, Nisful yang suka xiu-xiu, Rifda, dan Nuro. Kerekatan kita mulai terjalin, lem-lem perekat persaudaraan semakin rekat. PKL yang hampir seminggu kita tinggal bersama di sebuah bis yang membawa kita menyusuri tepian utara pulau Jawa.

Duabelas IPA Lima. Kita bersama kembali. Bosan ? tentu tidak jika dengan kalian yang selalu membuatku tersenyum. Bertemu dengan sesosok Ayah yang sangat bijak dan penuh kasih sayang. Kita lalui hari-hari terakhir di sini. Menempati kelas di Kampus Induk yang diidamkan, bertetanggaan dengan adik kelas Putra. Berperang dengan materi UN yang memuakkan tapi sungguh bermanfaat. Hingga akhirnya, lapak kita digusur. Berbagi dengan aula, kita menempati kelas baru. Terima dengan senyuman. Berangkat pagi pulang sore. P3M tanpa lelah, dengan guru yang selalu semangat ’45 menempa kita dengan rumus-rumus yang mengenyangkan perut.

Abi Makhrus yang penuh dedikasi membimbing kita, anak-anak yang nakal, menjadi anak-anak yang baik, merubah mawar yang berduri, menjadi mawar yang indah. Mengajari kita arti kedewasaan. Selalu ada kejutan dengan beliau.

Dan kini, sepertinya ada belahan bumi lain yang memanggil-manggil kita untuk kita datang ke sana. Menuntut ilmu. Menjelajahi lautan ilmu lain,  untuk mendapatkan sebuah mutiara. Maafkan segala khilaf yang pernah kubuat. Menghapus bayangan wajahku di hidup kalian, aku rela, namun jangan kalian hapus namaku dari hati kalian. Kalian-lah bagian dalam sejarahku, yang akan kuceritakan kepada anak cucuku kelak.

Mengenal kalian, aku seperti mengenal Indonesia. Inilah miniatur kecil Indonesia, ragam suku budaya dan bahasa, berbeda asal muasal, berbeda ayah, berbeda ibu, berbeda warna kulit dan watak, namun kita tetap satu “Pondok Pesantren Bahrul Ulum, MAN Tambakberas, Dua belas IPA Lima”.

_Anna, Arina, Kafa, Dina, Bila, Isma, Farisah, Fathimah, Ferenia, Hima, Imah, Nani, Putri, Intan, Iin, Ken, Latifah, Ila, Mardliyah, Maul, Mual, Melinda, Nida, Aini, Fathani, Nonet, Tyas, Rizka, Bi’a, Salma, Hikmah, Ufi, Vara, Wuri_

I Love You, :-*

Semoga ilmu yang kita dapatkan selama disini, manfaat fid diin, wad dunya, wal akhirat :-)

Kulepas kalian dengan peluk hangat raga ini, tanda berpisahnya raga, namun hati ini tak akan berpisah. Sesibuk apapun kita kelak, jangan lupakan tawasul kepada para masyayikh, kyai dan guru, sesibuk apapun, jangan lupa untuk saling memberi kabar.

Kutunggu cerita kesuksesan kalian, disini, di tempat pertama kita bertemu.

*Tepat 15 Hari yang lalu, peluk hangat kalian kepadaku untuk yang terakhir, di sekolah ini. Tapi kelak masih akan ada peluk rindu kalian untukku :)
Share: