Hari ini, saya melakukan perjalanan pulang. Rindu rumah, padahal baru satu minggu lalu saya pulang. Di perjalanan Jombang - Tulungagung di sebuah bus, di bangku nomer 3 dekat jendela, saya menemukan satu pelajaran.
Saat bus sampai di sekitaran kota Kediri. Ada seorang pengamen yang kira-kira berumur 30an. Menyanyikan sebuah lagu karyanya sendiri. Sebagaimana biasanya pengamen, dia terlebih dahulu melakukan basa-basi dengan berkata-kata yang intinya memohon derma.
Seusai mendendangkan dua lagu. Pengamen itu kembali bercerita. Dengan kata-kata bak seorang penyair. Pengamen itu melantunkan sebuah ayat al=Qur'an yang berisi kerusakan bumi. Menyinggung berbagai kemajuan zaman yang malah menjahilkan manusia. Menyinggung pemerintahan Indonesia yang jauh dari sempurna, namun tidak samapi menjatukan. Dan yang lebih mengagetkan, dia juga mulai merambah ke dunia maya untuk mempopularkan dirinya dan lagu karangannya ke jejaring youtube.
Mengamen bukanlah pilihannya, namun semua itu karena desakan. Dengan keilmuannya, bisa saja dia menjadi seorang motivator agama, penyanyi maupun penyair.
Hal itu semua, membuat pikiran negatif saya tentang pengamen selama ini hilang.Tidak semua pengamen itu buruk.Tidak semua pengamen itu melakukan pekerjaannya itu karena dia malas. Namun ada berbagai hal yang membuatnya seperti itu.
0 komentar:
Posting Komentar