Jumat, 22 Agustus 2014

Tentang Syukur :-)

Dengan dipilihkannya saya pada jalan ini oleh-Nya, sempat terbersit rasa kekecewaan, putus asa, hingga kata-kata tak pantas pun sempat akan terlontarkan. Atas dasar 'bersyukur', tak sampailah kata-kata itu keluar. Alhamdulillah.
Hati terus bergejolak menerima kenyataan, ah kenapa harus di sini. Saya inginnya di sana. Pikiran itu terus berlari memutari pikiran dan hati saya. Terlebih ketika saya mendengar, ada teman yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri bonafide, mendapatkan beasiswa pula. Mendengar ada teman yang diterima di Ibu Kota, ada yang mengikuti beberapa jalur seleksi dan itu diterima semua.
Ah, manusiawi sekali jika saya sempat cemburu dengan mereka. Ada sesuatu yang menyayat hati sepertinya. Apalagi ketika mendengar cerita orang tua bahwa putra putri rekan beliau diterima di PTN yang menurut banyak orang terbilang 'Waw'. Sampai berkata dalam hati "Dulu 'melarang', sekarang malah memamerkan". Ingin marah sekali saya waktu itu. Namun saya bertanya-tanya, siapa yang harus saya marahi ? Apakah rumput-rumput dan binatang kecil yang tak berdaya itu menjadi objek kemarahan saya ? Ah tidak, mereka malah mendo'akan saya ketika menuntut ilmu. Orang tua ? Semakin tidak pantas melampiaskan kemarahan saya kepada beliau, beliau yang memberikan separuh lebih hidupnya untuk putra putrinya. Lalu siapa ? . 
Bertanya, bertanya, dan bertanya. Hingga akhirnya dengan bertanya-tanya tersebut, nafsu dan emosi saya hilang, dan saya dapat berfikir jernih kembali.
Ya, saya 'bukan' orang yang tidak beruntung ataupun kurang beruntung. Semua orang terlahir dari orang tua yang berbeda, dan tentunya dengan keberuntungan yang berbeda pula. 
Bagaimana pun dan apapun yang kita dapatkan atau kita raih, itulah rizki kita, keberuntungan kita. Semua orang di dunia iini beruntung, hanya bagaimana cara mereka mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan.
Alhamdulillaah... syukur hamba kepada-Mu Ya Robbi, dzat Pemberi Rizki, dzat Yang Jiwaku berada pada kekuasaan-Nya, dzat Yang Maha Pembolak balik hati, yang telah membalikkan hati hamba kepada jalan yang benar dan Engkau Ridhoi :-)



 
Share:  

Naaah... Ini Jalanmu #4

Ya,
Dan pada akhirnya, di Kota Pahlawanlah tempatku. Tertulis dengan sama pada pengumuman tersebut, "Selamat, Anda  diterima di jurusan Ekonomi Syari'ah UIN Sunan Ampel Surabaya".

Setelah melihat pengumuman tersebut, dengan membawa hati yang baru, menerima semuanya, mensyukuri apa yang telah diberikan. Berangkat untuk verifikasi data dengan perasaan tenang.

Rupa-rupanya memang nafsu akan Ibu Kota dan Kota Gudeg lah yang membuatku ragu akan kota Pahlawan.

Bismillah, inilah jalan yang selama ini Engkau rahasiakan dari hamba. Tak pernah tergambar dalam benak bahwa di Kota Pahlawanlah saya akan menimba ilmu.

Assalamu'alaikum Surabaya, :-)
Share:  

Kamis, 21 Agustus 2014

Naaah... Ini Jalanmu #3

Seleksi berlalu...

Bulan Ramadhan, penantian akan ke mana saya melanjutkan menimba ilmu ini akan terjawab.

Pada kesempatan di bulan suci tersebut, saya memanfaatkan detik demi detik yang penuh barokah tersebut untuk meminta dan meminta. Tanpa meminta, Allah swt. pun telah memberi kita,  dan Allah menyukai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya, yaa tentunya dengan syarat dan  ketentuan yang berlaku, hehehe...

Hingga tanggal itu tiba.
Sejak sahur, orang tua, terutama Ibu mendesak saya agar segera melihat pengumuman di laman resmi penyelenggara seleksi, namun karena pengumuman dijadwalkan pukul 17.00 WIB, akhirnya saya menunggu. Ditengah persiapan berbuka puasa, Ibu masih terus mendesak saya agar segera melihatnya. Dengan perasaan yang campur aduk, saya melihat pengumuman tersebut, walhasil "Selamat, Anda diterima di jurusan Ekonomi Syari'ah UIN Sunan Ampel Surabaya". Alhamdulillaah, all praises to Allah. Sedikit cerita, sedari H-1 pengumuman, saya memutar lagu Maher Zain yang berjudul Alhamdulillah, dan saya hanyut dalam lirik-liriknya hingga meneteskan air mata. Yaa, mungkin itu pertanda bahwa Allah akan memberikan saya sesuatu dan saya harus bersyukur.

Namun, lagi lagi manusia hina nan tamak ini belum puas dengan apa yang telah di dapat. Masih ada satu lagi pengumuman yang akan keluar satu minggu setelah pengumuman pertama. Saya masih berharap agar dapat diterima di Ibu Kota. Hingga seolah-olah saya begitu 'memaksa' agar Allah mengabulkan keinginan saya tersebut.

Pengumuman kedua bertepatan dengan saya melakukan verifikasi data, ketika ditanya apakah saya yakin dengan pilihan di Surabaya tersebut, saya hanya menjawab "Entahlah". Berat sekali menerimanya. Ya, karena nafsu saya melapisi tiap-tiap akal sehat saya. Setelah Subuh saya harus segera berangkat ke Surabaya. Malam harinya saya sulit sekali memejamkan mata. Waktu sahur tiba, belum sempat apa-apa, baru membuka mata, saya langsung mencari telepon seluler saya untuk melihat pengumuman. Entah berapa bismillah dan sholawat saya ucapkan saat detik-detik itu. Dan pada akhirnya............... 
Share:  

Rabu, 20 Agustus 2014

Naaah... Ini Jalanmu #2

Ketika sebuah Bunga Mawar yang merah merekah berada beberaoa langkah di depan kita, apakah kita tidak berusaha meraihnya, meskipun jalanan yang beberapa langkah itu jalannya terjal dan berbatu ?

Dan keinginan yang menggebu itu telah bersemayam sejak lama. Yaah, tentang sebuah Beasiswa. Siapa sih yang nggak pengen dapat itu. Untuk meringankan beban orang tua, dan membanggakan semuanya. Semua saya kira sudah saya lakukan, do'a, usaha, ikhtiar dan tawakal. Namun apalah daya, Sang Maha Pemberi agaknya belum mengizinkan untuk mendapatkan beasiswa spesial itu. Banyak yang lebih pantas dan membutuhkan daripada saya. Alhamdulillah, disyukuri saja. Meskipun sedikit ada kekecewaan yang bersemayam. Namun dengan bersyukur itu, kekecewaan berangsur-angsur menghilang.


Selanjutnya tentang sebuah keinginan saya untuk melanjutkan di Ibu Kota.

Memang dari awal, orang tua tidak menyetujui akan hal itu. Dengan alasan yang terbaik tentunya. Namun setan Ibu Kota sepertinya sudah merasuki diri. Dengan diam-diam, saya mengisi salah satu PTN di sana pada pilihan studi saya saat Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi. Do'a do'a do'a dan ikhtiar telah saya lakukan. Berharap semoga Allah swt. mengabulkannya.

Di tengah panjangnya perjalanan penantian. Tiba-tiba ada sebersit keinginan untuk melanjutkan studi di Kota Pahlawan, namun tidak terlalu menggebu. Hingga pada akhirnya, tes seleksi itu dilaksanakan. Dengan persiapan yang seadanya, saya menjalani tes tersebut.


Bersambung....
Share:  

Minggu, 17 Agustus 2014

Naaah... Ini Jalanmu #1

Dilema akan ke mana saya melanjutkan pencarian ilmu ini semakin bergelantungan dalam fikiran. Sejak kelas 11 sudah banyak yang memberi saran untuk segera memikirkan hendak ke mana kaki ini ingin melangkah. Yang ada hanya bayangan bayangan dan bayangan. 

Saya ingin ke situ, ah ke situ saja, emm di sana aja kali ya, nama universitasnya beken. Banyak sekali keinginan.
Waktu semakin bergulir, hingga keputusan itu harus segera diputuskan. Tidak menafikkan diri, sebagai pelajar pada umumnya, pastilah ada rasa di mana 'gengsi' itu timbul. Seperti halnya ketika ingin mendaftarkan diri pada universitas yang bonafide.
Namun, didasari akan realita dan kemampuan yang ada, serta rasionalitas dalam memilih perguruan tinggi, semakin menyusutkan niat untuk mengajukan diri pada universitas tersebut. 


Hati manusia siapa yang tahu...
Kemarin berkeinginan seperti itu, sekarang keinginan yang lain muncul lagi.
Bersambung.......
Share: