Kamis, 19 Desember 2013

Sujudku

Alhamdulillah....
All praises to Allah...
Kalimat itulah yang tetap keluar dari lisan hinaku ini. Betapa bersyukurnya hamba Ya Allah atas karunia-Mu hari ini. Betapa tidak. Aku tak menyangka bahwa harapan dan do'aku benar-benar terkabulkan. Sebelumnya aku sangat pesimis untuk meraih itu lagi. Sulit, sangat sulit. Dengan persaingan yang sangat ketat. Dan dengan kecepatanan otakku yang mulai turun, aku harus bersaing dengan mereka-mereka yang berotak encer. Kelas akhir yang tak pernah terpikir. Malas, tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, suka tidur di dkelas, nilai jelek, ulangan harian selalu remidi. Bagaimana mungkin aku meraih itu. Awal semester satu lambat laun menghilang, dan ujian akhir semester di depan pelupuk mata. Oh Tuhan. Aku sangat pesimis sekali. Belajar pun saat mendekati ujian akhir semester. Macam apa aku ini. Tahunya menghabiskan uang. Belajarpun enggan, bagaimana bisa meraih itu lagi.
Semakin jauh, semakin aku ingin mendekatkan diri pada Sang Khoiro Mu'thi. Setiap malam, dengan mata yang masih merem melek, dengan nyawa yang belum penuh, aku menghadap-Mu. Aku ingin bermuhasabah dengan-Mu dalam kesepian ini. Aku bersujud di hadap-Mu. Mengharap Kemurahan-Mu. Berbagai riyadhoh-pun juga aku laukan. Ritual-ritual tak lupa setiap malam. Berbagai usaha sudah aku lakukan.
Tiba saatnya hal tersebut datang, harap dan cemas menyelimutiku. Bagaimana jika buku hijau itu membawa kabar buruk dan membuat kecewa semua orang. Oh tidak, jangan sampai itu terjadi. "Salma Mahmudah" namaku dipanggil. Buku hijau sudah di tangan. Ah, enggan aku membukanya. Bismillah, semoga terbaik, ucapku dalam hati. Dan akhirnya......
Terima kasih Ya Robbi, atas jawaban dari semua sujudku.
Ya Robbi ya Khoiro Mu'thi.
Share:  

Rabu, 18 Desember 2013

Seperti yang Dulu

Dalam hatiku menyeruak Aku ingin seperti dulu, tertawa bersama, bergembira bersama. Melukiskan kenangan akhir di gedung kuning ini. Aku rindu yang dulu. Yang kini, tak mungkin untuk terjadi. Mungkin saja, karena anything is possible. Tapi karena keadaan. Yang memaksaku untuk menenggelamkan keinginan itu dalam-dalam, dan menutupnya dengan rapi. Disaat yang bergembira diseberang sana. Aku dalam posisiku, turut bergembira, namun raut muka dan manik mataku tak bisa membohongi publik. Bahwa aku tidak sepenuhnya merasakan kegembiraan.
Aku rindu yang dulu
Aku ingin seperti yang dulu
Aku ingin seperti yang dulu
Aku ingin seperti yang dulu
Aku ingin seperti yang dulu
Aku ingin seperti yang dulu
Aku ingin seperti yang dulu

Maaf jika aku membuat sampean tidak nyaman,

Share:  

Bukan Maksudku

Aku bingung dengan semua ini,
Semua orang menganggapku berubah
Aku memang berubah kawan,
Aku bukan bermaksud membangunkan harimau tidur dalam hatiku,
Tapi keadaan yang membuatku seperti ini
Aku tak bermaksud untuk tidak MENYAPA, bahkan MELIHAT sampean
Aku pun ingin seperti hari-hariku yang gembira
Mereka mengatakan aku kembali seperti dulu lagi,
Tidak mengenyahkan larangan itu
Maka dari itu, aku sedikit menjauh dari sampean
Hanya sedikit saja,
Karena jikalau tidak, semua akan kembali seperti dulu
Sebelum ada peringatan yang kedua kalinya, aku memilih bungkam
Share:  

Jumat, 13 Desember 2013

yang irrasional pun turut andil

yang irrasional pun turut andil. itu yang saat ini saya rasakan. dihari ke lima ujian. saya remidi untuk yang pertama kali. mata pelajaran fisika. padahal menurut saya, soal yang disajikan lumayan. dan sudah pernah dibahas sebelumnya. dengan semangat saya melahapnya. yakin bahwa tidak akan remidi. kemarin sepulang sekolah, dengan semangat berkata "aa~~ soalnya gampang, semua sudah dibahas, pasti besok tidak remidi".

wal hasil, pukul 8 tadi, saya dan teman-teman melihat pengumuman. shock. dari 35 siswa, 28 orang remidi. tidak !. terpuruk. semangat pun luntur.

mem-flash back ke belakang. apa yang saya lakukan kemarin. pertama, sombong dengan soal yang disajikan. menganggap remeh. kedua, saya paginya kesiangan tidak 'bersua' dengan Sang Pemilik Ilmu. yang biasanya sempat sholat hajat, sepertiga malam yang ini, saya tidak melaksanakan sholat hajat.dan terakhir, saya membohongi diri saya sendiri. ketika saya berfikir, meresapi, hal-hal yang irrasional itu, turut berandil dal keberuntungan kita.

jadi, berhati-hatilah, bukan saja hal yang rasional, tapi orang ketiga (irrasional) juga turut bersama kita.

be better than now. ya Robbi ya Khoiro Mu'thi
Share:  

Kamis, 12 Desember 2013

Sampai Kapan-pun


Sampai kapanpun you are my best friend
Akan ada air pelupuk mata yang menetes
Lain dengan nanti
Manja canda tawa tak kan terdengar
Abu kenangan yang menjadi saksi bisu

Manakah kebersamaan itu ?
Adanya hanya penyesalan
Hampa....
Memang itu sudah takdir
Untuk masa depan cerah
Di mana yang dulu ?
Ahh.... kau harus terima takdir itu
Hanya senyuman bahagia yang ingin ku lihat nanti

-dont forget me-
Sebuah puisi karya teman baikku "Rizqi Zidni" tertanggal Jombang, 12 Desember 2013 12.15
Share:  

Rabu, 11 Desember 2013

karakter -_-


"mbaaak, ini punya siapa ya kok kleleran (=berantakan, berceceran.red) ?" suara yang sering saya dengar di pondok. suara seseorang. dia yang saat ini tengah booming namanya. katanya teman-teman sih, -sedang bersensasi-. dia seorang anak adam yang menurut saya 'unik'. lahir di Jombang kota Beriman tanggal 20 Mei 1997. umurnya 16 tahun. dia sekarang duduk di bangku kelas 2 SMA. bukan SMA sih, MAN tepatnya. adik kelas. benar-benar unik. punya sifat yang bergelombang seperti rambut yang lagi diblow. sering ketawa kalau saya lagi lihat dia marah-marah. apa lagi kalau dia lagi lagi kedatangan tamu (=tiiiit, sensor !). tingkahnya selalu membuat saya ketawa. kalau sama dia, saya tidak bisa marah. dan selalu mengalah. aneh. mungkin memang bawaan dia dari sononya seperti itu. dari segi kepribadian, dia baik, menyenangkan, pasang surut emosinya. namanya juga remaja, tidak heran saya. dari segi kecerdasan, dia cerdas, cepat nyambung kalau dikasih asupan pelajaran, rajin dan semangat belajar tinggi. tidak seperti saya -_-. apalagi ya... rajin beribadah juga, manut. yang unik dari dia, suka nyanyi western music dan suaranya itu sesaat seperti FSL. hahaha. tidak percaya ? dengarkan sendiri suaranya. tapi sayangnya saya tidak punya rekamannya, hahaha :-). dulu saya sama dia punya nama panggilan unik, tapi karena suatu kecelakaan yang mengakibatkan perlunya pemusnahan nama itu. kecelakaan yang sangat membuat saya tertawa terbahak :-). apalagi yaa... ow ya, dia suka marah-marah, kadang seperti anak kecil, kadang juga bisa lebih dewasa dari saya. dia juga tidak begitu cuek, lumayan perhatian. kadang juga pandai memberi solusi jika seseorang sedang bermasalah, karena cita-citanya ingin jadi psikolog (yaah, moga aja terkabul, amiin). tapi anehnya, dia bisa solving people's problem, tapi dia sendiri kalau lagi punya masalah, minta pulang. mungkin memang yang bisa membantu menyelesaikan masalahnya adalah kedua orang tuanya. kalau lagi curhat-curhat, dia tidak mau menerima curhatan tentang masalah keluarga. aib katanya (mesikipun kenyataannya biasa aja). tapi kalau tentang masalah lain, dia mau jadi pendengar setia. karakter yang unik banget pokoknya. saya menganggap dia sebagai partner yang baik (partner dalam berbagai hal), dan juga saya anggap seperti saudara sendiri yang saya sayangi. -_-
naah, ini fotonya, foto sama saya -_-
ow ya, jika sobat blogger ingin berkenalan, check it out muzy
Share:  

istimewa

hari ini, tanggal istimewa sepertinya, 11 12 13, cantik, indah, seperti hari ini. indah sekali. entah apa yang membuatku sebahagia ini. ya Robb.... apa yang aku rasakan. hari ini, untuk pertama kalinya, aku mengungkapkan perasaanku ke dia pada selembar kertas soal yang aku temukan dimeja. ahh.... aku tak membayangkan jika dia mengetahuinya. entahlah, apa yang terjadi padaku, aku tak mengerti. aku rasakan kedamaian hati.
hari ini ujian semester hari ke 3, sejauh ini, aku tidak mengalami remidi, alhamdulillah, benar-benar ya Robbi ya khoiro mu'thi. benar-benar istimewa. namun, aku cemas, apakah aku masih mendapatkan apa yang dulu pernah aku dapatkan. ketakutan dan kecemasan melanda, ditengah-tengah membuncahnya perasaanku pada dia. bagaimana nasib buku hijauku tahun ini ?
Ya Robbi, terima kasih atas karunia-Mu pada hamba ini. karunia kebahagiaan, kedamaian dan cinta
Share:  

Minggu, 08 Desember 2013

berangkat haji

Labbaikallahumma labbaik...
Lantunan talbiah di sekitar ka'bah, dan disudut-sudut sekolah. haha, ini cuma manasik kok. tapi meskipun begitu, serasa di haram beneran. terhura. membayangkan, jika aku dan keluarga, serta teman-teman diberi kesempatan mengunjungi baitullah. betapa senangnya. meskipun ini hanya miniatur. semoga dari miniatur ini, kelak bisa menjadi kenyataan. amiin.
hari ini ujian praktek manasij haji siswi kelas 3. semua bagaikan hajjah beneran. memakai mukenah putih yang menambah keanggunan. berpose bak  jama'ah haji. kenangan terakhir dengan teman-teman dua belas ipa lima di kelah akhir ini.


Share:  

Senin, 02 Desember 2013

Karena Rasa, Manusia Punya Banyak Cerita…

Ini tentang sebuah rasa. Perasaan manusia terhadap manusia yang lain. Perasaan yang sangat irrasional. Perasaan sayang. Sayang yang muncul perlahan pada saat kekosongan diri ini datang. Bagai oase di padang pasir. Manusia itu menemani setiap detik nafas sang manusia. Menemani secara abstrak tentunya. Semakin lama, rasa semakin membabi buta dalam diri ini. Mencari bayangan senyumnya disetiap pejaman mata. Mencari gerak tabiatnya yang mengusik hati. Rasa yang muncul karena terbiasa. Rasa yang sulit diungkapkan dan ditafsirkan. Hanya membeku dalam hati. Dia tak mau terungkap. Manusiapun mengungkapkan dan menyalurkan perasaan sayangnya dengan cara yang manusia itu tidak tahu. Manusia, semakin hari semakin sayang kepada manusia itu. Manusia itu pun juga semakin menyadari bahwa dia disayangi oleh manusia tersebut. Semakin waktu semakin saling menyayangi.
Semakin waktu semakin besar rasa itu. Semakin besar pula rasa saling bersimpati dan perhatian. Larut dalam keindahan karuni-Nya. Kasih sayang. Hingga suatu ketika badai meluluh lantahkan bongkahan kasih sayang itu. Memecah belah hati dan tali kasih. Manusia lain menghancurkannya. Manusia lain merebutnya. Hingga ketidakrelaan manusia jika manusia itu pergi. Sebenarnya, manusia tidak pergi. Hanya mengalihkan sedikit perhatiannya. Tidak rela. Sakit. Setiap hari sang manusia merasakannya.
Manusia mengerti, ia salah. Tapi ia tidak bisa menghindari ini. Manusia tetap pergi meninggalkan manusia dalam kesendiriannya. Namun, manusia masih bersimpati kepada sang manusia itu dari sudut elevasi yang jauh. Perbedaaan dan ketidaksatuan itu, tidak menyusutkan kutub-kutub kasih sayangnya untuk bersatu.

Tali kasih pun putus. Manusia dengan manusia lain, dan sang manusia dengan manusia lain pula. Manusia itu tidak dapat mengelakkan kenyataan bahwa manusia masih sangat sayang dan bersimpati kepada sang manusia. Itu terlihat dari raut ketiidakrelaannya.
Share: