Ini tentang sebuah rasa. Perasaan manusia terhadap manusia
yang lain. Perasaan yang sangat irrasional. Perasaan sayang. Sayang yang muncul
perlahan pada saat kekosongan diri ini datang. Bagai oase di padang pasir. Manusia
itu menemani setiap detik nafas sang manusia. Menemani secara abstrak tentunya.
Semakin lama, rasa semakin membabi buta dalam diri ini. Mencari bayangan
senyumnya disetiap pejaman mata. Mencari gerak tabiatnya yang mengusik hati.
Rasa yang muncul karena terbiasa. Rasa yang sulit diungkapkan dan ditafsirkan. Hanya
membeku dalam hati. Dia tak mau terungkap. Manusiapun mengungkapkan dan
menyalurkan perasaan sayangnya dengan cara yang manusia itu tidak tahu. Manusia,
semakin hari semakin sayang kepada manusia itu. Manusia itu pun juga semakin
menyadari bahwa dia disayangi oleh manusia tersebut. Semakin waktu semakin
saling menyayangi.
Semakin waktu semakin besar rasa itu. Semakin besar pula
rasa saling bersimpati dan perhatian. Larut dalam keindahan karuni-Nya. Kasih sayang.
Hingga suatu ketika badai meluluh lantahkan bongkahan kasih sayang itu. Memecah
belah hati dan tali kasih. Manusia lain menghancurkannya. Manusia lain
merebutnya. Hingga ketidakrelaan manusia jika manusia itu pergi. Sebenarnya,
manusia tidak pergi. Hanya mengalihkan sedikit perhatiannya. Tidak rela. Sakit.
Setiap hari sang manusia merasakannya.
Manusia mengerti, ia salah. Tapi ia tidak bisa menghindari
ini. Manusia tetap pergi meninggalkan manusia dalam kesendiriannya. Namun,
manusia masih bersimpati kepada sang manusia itu dari sudut elevasi yang jauh. Perbedaaan
dan ketidaksatuan itu, tidak menyusutkan kutub-kutub kasih sayangnya untuk
bersatu.
Tali kasih pun putus. Manusia dengan manusia lain, dan sang
manusia dengan manusia lain pula. Manusia itu tidak dapat mengelakkan kenyataan
bahwa manusia masih sangat sayang dan bersimpati kepada sang manusia. Itu terlihat
dari raut ketiidakrelaannya.
0 komentar:
Posting Komentar