Minggu, 29 Juni 2014

Si Do'i Yang Spesial Banget :*

Marhaban Yaa Romadlon...
Alhamdulillah wa syukru lillah :)
Masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh berkah dan maghfiroh ini. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya oleh semua kaum muslimin. Yang datengnya setahun sekali.
Ngomongin bulan Romadlon, si do'i ini bener-bener spesial banget dah, lihat di tv, dumay, radio semua pada ngomongin do'i. Dari mulai makanan, minuman, pakaian, public house, semua pada bikin yang spesial di bulan yang spesial ini. Ngga cuma muslim aja yang seneng, yang bukan non muslim pun bisa kecipratan big sale nya Romadlon, hehehe.
Semua orang berlomba-lomba untuk meningkatkan ketaqwaannya pada Alloh swt. Khatam al-Qur'an, Majlis ta'lim, ibadah-ibadah sunnah, dsb. Memang bener-bener spesial.
Ditambah lagi dengan adanya Malam Lailatul Qodar di sepuluh hari terakhir bulan spesial ini :) menjadikan bulan ini sebagai bulan yang paling ditunggu-tunggu. Yang biasanya di masjid cuma ada beberapa butir orang, jadi penuh banget. Lima waktu jama'ah di masjid. Yang biasanya khatam al-Qur'an 6 bulan sekali, dalam satu bulan ini, bisa lima kali, subhanallah... Sungguh bulan yang mulia.
Tapi eh tapi, kasian sekali Romadlon kali ini, para anak Adam, khususnya di Indonesia, agaknya menigakan Romadlon nih, dengan piala dunia dan pemilihan presiden. Yaah semoga kita tidak termasuk orang yang merugi.
Kalau sudah ditinggalkan Romadlon, jangan malah kendor semangat ibadahnya, awas terserang futur, fastabiqul khoirot :)
Allahumma innaka 'afuwwun karim, tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni :)
 
Share:  

Jumat, 20 Juni 2014

Hakikatnya



Wanita,
Pernikahan
Kenapa tiba-tiba saya ingin posting ini. Karena menurut saya, 2 tag tersebut sangatlah beepengaruh. Semakin lama, usia akan semakin tua, semakin berkurang. Dan pembicaraan mengenai hal tersebut bukanlah hal yang tabu. Apalagi saya yang masih berusia 19 tahun ini. Mungkin ini posting teraneh saya. Saya belum pernah mengalaminya. Dan kesemua posting saya, saya sudah mengalaminya.

Bermula dari pandangan saya tentang pernikahan. Pernikahan bukan lah sebuah permainan, drama maupun teater. Ini merupakan sunnah Rosul dan menyempurnakan separuh agama. Ibadah yang dilakukan setelah membina rumah tangga akan berlipat pahalanya, disbanding dengan sebelumnya. Orang tua menjadi yang kedua, setelah pasangan. Betapa mulianya seorang suami itu, orang tua yang membesarkan dari dalam kandungan hingga dewasa dan matang saja diduakan dengan kehadiran suami. Yang dulunya ridho Allah ridho orang tua juga, namun setelah adanya pengucapan Ijab dan Qobul di depan wali dan saksi, ridho Allah terletak pada ridho sang Suami. Berbahagialah anda-anda yang akan menjadi suami (hehehe J).

Kedua, tentang hakikat seorang istri. Saat saya ditanya oleh seorang teman, tentang pandangan perkuliahan, dia bertanya “Mbak, menurut mbak, kuliah itu kita pilih sesuai bakat atau prospek kerja”. Dengan mantap saya menjawab “Yang utama itu mencari ilmunya, tentang prospek kerja ke depannya, kalau saya pribadi, saya tidak begitu memikirkannya, meskipun itu juga penting, saya lebih mementingkan fitrah saya yang kelak akan menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak saya. Fitrah untuk merawat keluarga dan menjaganya. Sudah jelas dalam hadits nabi saw. Bahwa Wanita akan dimintai pertanggung jawaban atas rumah suaminya (rumah tangga). Tapi tidak ada salahnya jika kita menjadi ibu rumah tangga yang intelek. Dan intelegensi juga sangat dibutuhkan untuk mendidik anak-anak kita kelak. Karena pendidikan anak berawal dari keluarga, terutama ibu. Jadi menuntut ilmu sangat diperlukan untuk mendidik anak-anak kita kelak.

Posting yang mungkin ini merupakan ke-sok tahu-an saya, yang saya sendiri belum pernah mengalaminya. Saya bergitu tertarik tentang ‘Pernikahan’ bukan berarti saya ngebet nikah muda, tetapi saya sedang menelaah bahwa pernikahan itu bukan permainan yang hanya senang-senang di awal. Namun bagaimana berbakti kepada suami, mendidik anak, menjaga keutuhan rumah tangga dan menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah.

Ingat, pernikahan bukan permainan yang hanya untuk bersenang-senang saja. Oleh karena itu, persiapkan semuanya sebelum hari itu tiba. Semoga kita selalu dalam naungan Ridho-Nya.

Share:  

Selasa, 10 Juni 2014

Akan ada gantinya :')

Alhamdulillah :')

Hanya bisa bersyukur meskipun sedikit kecewa. Allah telah menganugerahi saya kebesaran hati (padahal tu hati pernah liver kayanya :D ).
Apapun yang saya terima hari ini, ini merupakan takdir-Nya, jawaban atas semua do'a, dan saya tetap bersyukur. Ini yang terbaik buat saya. Masih ada rencana indah Allah di depan sana :)

Well,

Pertama, saya ikut snmptn (itu looh, seleksi masuk perguruan tinggi lewat jalur nilai raport), mengambil ptn pertama di Universitas Brawijaya, prodi Ilmu Gizi. Di sini saya berfikir, kemampuan IPA saya hanya sebatas 'makanan yang baik itu 4 sehat yang terdiri dari nasi, lauk, sayur dan buah serta 5 sempurna ditambah susu (anak TK aja tau kaleee ._.). Dengan tertolaknya saya di sini, saya bisa mengambil pelajaran, mungkin di sana akan memberatkan saya, karena kemampuan saya yang minim, kedua banyak yang lebih tokcer otaknya dibandingkan saya, ketiga mungkin di sana tidak baik untuk saya. Pilihan kedua, saya memilih UIN Malang, prodi Farmasi dan Teknik Informatika (naah looh, makin tinggi aja pilihannya). Tertolak juga, pelajaran yang diambil juga sama, malah ini lebih tak tau diri, kemampuan oey kemampuan, lihat itu. -____- . Kalau semisal saya diterima, mungkin akan memberatkan saya, kafrena di Farmasi, akan banyak bermain dengan Kimia, yang notabene saya eneg dengan Kimia, hehehe ^_^

Kedua, ini merupakan impian saya, pbsb (beasiswa pesantren untuk santri dari kemenag). Bukan iming-iming biaya pendidikan dan living cost yang besar yang saya inginkan, akhir dari pendidikan itu, mengabdi ke pesantren asal. Banyak pihak yang menaruh harapan pada ini, termasuk orang tua, pengasuh dan sekolah. Karena impian hebat itu, saya berusaha semaksimal mungkin. Penuh perjuangan, dari mulai menunggu pendaftaran dibuka. Sedikit cerita, H-2 sebelum pendaftaran dibuka, saya sempat berfirasat lewat mimpi. Pendaftaran online sudah selesai, dapet kabar kalau berkas dikirim sendiri ke kantor kemenag provinsi yang di Sidoarjo (naah looh, bingung lagi, tapi pada akhirnya sekolah yang ngirim). Pukul 16.00 pengumpulan berkas terakhir di sekolah, jam 9 pagi ditelfon teman kalau harus ke kantor kemenag Jombang buat minta surat keterangan, dan surat keterangan itu membutuhkan surat dari pesantren, waktu itu abah sama ibu tindak ke Bandung, bingung ._. Akhirnya, saya memberanikan diri sms ibu nyai, alhamdulillah ada jalan. Langsung saya menuju kantor kemenag ditemani teman saya, menunggu sampai jam 2 siang, alhamdulillah kelar juga. Perjuangan belum berakhir, masiih ada tes di depan mata. Do'a, usaha, ikhtiar, sudah. Semakin down saat melihat peserta dari pesantren  lain yang lebih hebat, menciut -____- . Tes berakhir, tinggal tawakkal.
Dan pada akhirnya, Jakarta menolakku :'( . Alhamdulillah, tidak apa. Sadar diri akan kemampuan juga, kemampuan sebatas ini, ambil jurusan Kedokteran dan Keperawatan, sadar diri oey. Dan banyak yang lebih berhak menerima beasiswa itu. Kecewa, tak bisa dipungkiri, saya kecewa. Impian hebat yang sudah saya impikan bertahun-tahun, kandas. 

Tapi rasa syukur masih lebih besar, mungkin karena dari awal bapak ibu tidak ingin saya kuliah jauh-jauh. Lalu, apa arti semua mimpi saya ? ah, mungin hanya bunga tidur.

Janji Allah, ud'unii astajib lakum, bedo'alah, memintalah kepada Allah, niscaya akan Allah kabulkan. Entah mengabulkannya sama persis dengan yang diminta, atau menggantinya dengan yang lebih baik, dan tidak menutup kemungkinan, do'a akan terkabulkan kepada anak-cucu kita.

Masih ada jalan, Allah tahu mana yang terbaik untuk kita, tapi Allah menunggu saat yang tepat untuk memberikannya kepada kita. :-)
Selalu semangat, jangan pernah menganggap Allah tidak adil dan tidak sayang kepada kita, ini yang terbaik untuk kita. Allah menyayangi semua hamba-Nya :) 
Share:  

Minggu, 01 Juni 2014

Sabar dalam Diam atau Sabar dan Berusaha ?

Entah kenapa tiba-tiba saya berfikiran untuk posting ini.
Menikmati kebosanan itu bisa dengan berbahagia, sedih maupun mengeluh. Menurut saya itu hal yang manusiawi. Seseorang memiliki emosi, jika bisa mengalahkan emosi, berarti ia seorang pemenang, namun jika tidak, ia telah menjadi budak emosi. Kepenatan seseorang bisa terjadi kapan saja, di mana saja dan kepada siapa saja. Manusia dianugerahi hati (=baca : perasaan) dan fikiran untuk menimbang apa yang akan dia lakukan, agar tidak gegabah dan salah langkah nantinya. Memadukan keduanya sangat sulit, namun jika ada usaha untuk bangkit, pasti hal itu bisa menjadi hal yang sangat mudah.
Sering mendengar kata 'mengeluh', banyak sekali makna 'mengeluh'. Ada yang mengeluh karena manja, karena ingin diperhatikan dan ada yang mengeluh karena ingin diberi masukan. Meskipun pada hakikatnya, terutama dalam tasawuf, 'mengeluh' itu sangat tidak dianjurkan. Namun jika mengeluh dengan tujuan ingin mendapat suatu wejangan atau pencerahan, apa salahnya ?. Dalam hadits nabi Muhammad saw. saja membolehkan kita mengeluh saat sakit, dengan tujuan pengobatan, mengeluh ke dokter misalnya, siapa tahu Allah menitipkan kesembuhan kita pada tangan dokter tersebut :).
Begitu pula jika tengah dirundung kepenatan dan kegelisahan, mengeluh kepada Allah memang jalan yang sangat utama, karena Kepada-Nya-lah hamba berserah diri. Namun, sekali lagi, tidak ada yang tahu akan rahasia Allah swt, mungkin melalui hambanya, Allah titipkan jawaban atas kepenatan dan kegelisahan tersebut. Bukan mengajak untuk mengeluh, hanya memberi pengalaman saya ketika ada beberapa teman yang menggeluh atau lebih halusnya 'curhat'. Dengan begitu, saya mendapat banyak pengalaman dan pengetahuan tentang emosional berbagai macam orang. Bisa belajar mengolah fikiran :). 

Dalam kepenatan dan kegelisahan serta kebosanan, ketika mengeluh, akan banyak yang berkata "sabar aja bos". Sabar yang bagaimana ini, sabar dengan hanya berdiam diri, bersemedi, hibernasi menunggu keajaiban datang dan menunggu rembulan berubah menjadi kotak ? . Tidak tentunya. Sabar dan berusaha. Sulit ? memang, menulis saja mudah, namun penerapannya masih sulit. Usaha tidak harus secara langsung, bisa step by step. Yang paling awal, usaha menata hati dan mengalahkan salah satu di antara berbagai pertimbangan, jika hanya menimbang-nimbang, tak akan berakhir, harus ada yang dimenangkan dan pasti ada yang dikalahkan. Yang dikalahkan bukan berarti tidak penting, namun harus sabar agara yang menang berhasil terlebih dahulu :) .
Terakhir, menggalahkan emosi itu lebih sulit daripada mengalahkan lawan perang yang jumlahnya 100 kali lebih banyak dari kita :).
Bismillah... Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya dan Mengetahui apa yang masih sirri dalam diri kita.
Yaa 'alima sirri minna, laa tahtiki sitro 'anna.. :)



Di pojok Aula Gedung Kuning
-dalam kesendirian-

Share: