Jumat, 20 Juni 2014

Hakikatnya



Wanita,
Pernikahan
Kenapa tiba-tiba saya ingin posting ini. Karena menurut saya, 2 tag tersebut sangatlah beepengaruh. Semakin lama, usia akan semakin tua, semakin berkurang. Dan pembicaraan mengenai hal tersebut bukanlah hal yang tabu. Apalagi saya yang masih berusia 19 tahun ini. Mungkin ini posting teraneh saya. Saya belum pernah mengalaminya. Dan kesemua posting saya, saya sudah mengalaminya.

Bermula dari pandangan saya tentang pernikahan. Pernikahan bukan lah sebuah permainan, drama maupun teater. Ini merupakan sunnah Rosul dan menyempurnakan separuh agama. Ibadah yang dilakukan setelah membina rumah tangga akan berlipat pahalanya, disbanding dengan sebelumnya. Orang tua menjadi yang kedua, setelah pasangan. Betapa mulianya seorang suami itu, orang tua yang membesarkan dari dalam kandungan hingga dewasa dan matang saja diduakan dengan kehadiran suami. Yang dulunya ridho Allah ridho orang tua juga, namun setelah adanya pengucapan Ijab dan Qobul di depan wali dan saksi, ridho Allah terletak pada ridho sang Suami. Berbahagialah anda-anda yang akan menjadi suami (hehehe J).

Kedua, tentang hakikat seorang istri. Saat saya ditanya oleh seorang teman, tentang pandangan perkuliahan, dia bertanya “Mbak, menurut mbak, kuliah itu kita pilih sesuai bakat atau prospek kerja”. Dengan mantap saya menjawab “Yang utama itu mencari ilmunya, tentang prospek kerja ke depannya, kalau saya pribadi, saya tidak begitu memikirkannya, meskipun itu juga penting, saya lebih mementingkan fitrah saya yang kelak akan menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak saya. Fitrah untuk merawat keluarga dan menjaganya. Sudah jelas dalam hadits nabi saw. Bahwa Wanita akan dimintai pertanggung jawaban atas rumah suaminya (rumah tangga). Tapi tidak ada salahnya jika kita menjadi ibu rumah tangga yang intelek. Dan intelegensi juga sangat dibutuhkan untuk mendidik anak-anak kita kelak. Karena pendidikan anak berawal dari keluarga, terutama ibu. Jadi menuntut ilmu sangat diperlukan untuk mendidik anak-anak kita kelak.

Posting yang mungkin ini merupakan ke-sok tahu-an saya, yang saya sendiri belum pernah mengalaminya. Saya bergitu tertarik tentang ‘Pernikahan’ bukan berarti saya ngebet nikah muda, tetapi saya sedang menelaah bahwa pernikahan itu bukan permainan yang hanya senang-senang di awal. Namun bagaimana berbakti kepada suami, mendidik anak, menjaga keutuhan rumah tangga dan menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah.

Ingat, pernikahan bukan permainan yang hanya untuk bersenang-senang saja. Oleh karena itu, persiapkan semuanya sebelum hari itu tiba. Semoga kita selalu dalam naungan Ridho-Nya.

Share:  

0 komentar:

Posting Komentar