Minggu, 01 Juni 2014

Sabar dalam Diam atau Sabar dan Berusaha ?

Entah kenapa tiba-tiba saya berfikiran untuk posting ini.
Menikmati kebosanan itu bisa dengan berbahagia, sedih maupun mengeluh. Menurut saya itu hal yang manusiawi. Seseorang memiliki emosi, jika bisa mengalahkan emosi, berarti ia seorang pemenang, namun jika tidak, ia telah menjadi budak emosi. Kepenatan seseorang bisa terjadi kapan saja, di mana saja dan kepada siapa saja. Manusia dianugerahi hati (=baca : perasaan) dan fikiran untuk menimbang apa yang akan dia lakukan, agar tidak gegabah dan salah langkah nantinya. Memadukan keduanya sangat sulit, namun jika ada usaha untuk bangkit, pasti hal itu bisa menjadi hal yang sangat mudah.
Sering mendengar kata 'mengeluh', banyak sekali makna 'mengeluh'. Ada yang mengeluh karena manja, karena ingin diperhatikan dan ada yang mengeluh karena ingin diberi masukan. Meskipun pada hakikatnya, terutama dalam tasawuf, 'mengeluh' itu sangat tidak dianjurkan. Namun jika mengeluh dengan tujuan ingin mendapat suatu wejangan atau pencerahan, apa salahnya ?. Dalam hadits nabi Muhammad saw. saja membolehkan kita mengeluh saat sakit, dengan tujuan pengobatan, mengeluh ke dokter misalnya, siapa tahu Allah menitipkan kesembuhan kita pada tangan dokter tersebut :).
Begitu pula jika tengah dirundung kepenatan dan kegelisahan, mengeluh kepada Allah memang jalan yang sangat utama, karena Kepada-Nya-lah hamba berserah diri. Namun, sekali lagi, tidak ada yang tahu akan rahasia Allah swt, mungkin melalui hambanya, Allah titipkan jawaban atas kepenatan dan kegelisahan tersebut. Bukan mengajak untuk mengeluh, hanya memberi pengalaman saya ketika ada beberapa teman yang menggeluh atau lebih halusnya 'curhat'. Dengan begitu, saya mendapat banyak pengalaman dan pengetahuan tentang emosional berbagai macam orang. Bisa belajar mengolah fikiran :). 

Dalam kepenatan dan kegelisahan serta kebosanan, ketika mengeluh, akan banyak yang berkata "sabar aja bos". Sabar yang bagaimana ini, sabar dengan hanya berdiam diri, bersemedi, hibernasi menunggu keajaiban datang dan menunggu rembulan berubah menjadi kotak ? . Tidak tentunya. Sabar dan berusaha. Sulit ? memang, menulis saja mudah, namun penerapannya masih sulit. Usaha tidak harus secara langsung, bisa step by step. Yang paling awal, usaha menata hati dan mengalahkan salah satu di antara berbagai pertimbangan, jika hanya menimbang-nimbang, tak akan berakhir, harus ada yang dimenangkan dan pasti ada yang dikalahkan. Yang dikalahkan bukan berarti tidak penting, namun harus sabar agara yang menang berhasil terlebih dahulu :) .
Terakhir, menggalahkan emosi itu lebih sulit daripada mengalahkan lawan perang yang jumlahnya 100 kali lebih banyak dari kita :).
Bismillah... Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya dan Mengetahui apa yang masih sirri dalam diri kita.
Yaa 'alima sirri minna, laa tahtiki sitro 'anna.. :)



Di pojok Aula Gedung Kuning
-dalam kesendirian-

Share:  

0 komentar:

Posting Komentar