Sabtu, 26 Juli 2014

S a h a b a t

Setelah kemarin tak sadarkan diri selama 15 jam Sodara-sodara..
Memetik pelajaran. 


Persahabatan :)
Ketika terbesit 'ingin punya pacar, biar ada yang nemenin, ada yang merhatiin, ada yang dikangenin, ada yang dicemburuin'
 

Dan ketika bayangan itu menjadi nyata, seakan hidup hanya untuk kekasih. Cerita ke sahabat 'guys, aku udah punya pacar lho, dia gini gini gini gitu bla bla bla', sahabat akan menjawab 'selamat ya, semoga langgeng, seneng deh kalo kamu seneng'. Meskipun si sahabat dalam hatinya 'sepertinya posisiku sudah tergantikan, yaah semoga kau bahagia dengannya sahabat'.
 

Waktu berjalaaan.....
Hampir setiap hari cerita 'eh eh tau ngga, pacar aku gini lho, gitu lhoo' sahabat hanya tersenyum bahagia melihat sahabatnya bahagia, meskipun ada sedikit kecemburuan.
 

Saat diputusin, nangis darah (lebey) ngga mau ngapa-ngapain, cerita ke sahabat 'guys, aku putus :'( ''
Saat itu pula pelukan hangat sahabat akan menenangkanmu,
Saat senang, sahabat ada
Saat ga punya uang, sahabat ada
Saat kesepian, sahabat ada
 

Bahkan saat sedihpun, pundak sahabat akan tetap bersedia untuk memberimu sandaran :)
Membuatmu tersenyum, mengingatkan bahwa sahabat selalu menyayangimu :)
Sahabat bisa orang tua, keluarga, maupun teman.
Dia akan selalu ada :)
Share:  

Rabu, 23 Juli 2014

A habit

Lama-lama saya mirip nocturnal Sodara-sodara :D
 

Membicarakan tentang 'habit', saya hadi inget pernah baca statement begini 'Kamu sholat, ibadah-ibadah yang lain, itu karena apa ? Karena didikan orang tua, kewajiban yang kalau ditinggal berdosa apa gimana ?'.
 

Dari situ saya hanya manggut-manggut, oiya ya, rasanya lebih dari 15 tahun melakukan sholat karena 'kebiasaan' dan asal menggugurkan kewajiban. Begitu juga seperti puasa, menahan lapar dahaga saja. Ke masjid, i'tikaf, dilakukan hanya seperti rutinitas. Baca al-Qur'an, sekedar baca aja.
 

Waktu sudah berlalu belasan tahun, makan bangku sekolah lebih dari 10 tahun, alhamdulillah setelah 'metani' tanda tanya tersebut, muncullah suatu hakikat. Berbicara tentang hakikat maupun tasawuf, yang berandil besar adalah 'hati'. Hati yang dalam konteks ini adalah sebuah alat untuk bermain perasaan dan ego.
 

Saya cermati, mulai menggerakan otak untuk berfikir, mengolah hati untuk merasa. Akhirnya saya menemukan jawaban atas tanda tanya tersebut.
Ya, kebiasan-kebiasan 'syariat' di atas, yang telah mendarah daging, bukan hanya kebiasaan untuk memenuhi jasmani saja, tetapi kebiasaan yang menjadikan hati lebih tenang. Mengetahui satu persatu hakikat apa di dalamnya.
 

Misalnya, dulu-dulu baca al-Qur'an hanya untuk target cepat khatam, namun kini, membaca bukan sekedar membaca, tetapi membaca juga apa yang tersirat di dalamnya, meneliti tanda-tanda kebesaran Allah swt. Yang pada akhirnya akan semakin menumbuhkan keimanan kita. Dulu baca al-Qur'an asal lewat saja, sekarang alhamdulillah, jika menemukan kata maupun kalimat dalam ayat tersebut membuat penasaran, bisa dilihat di terjemah, di tafsir dan referensi lain agar lebih dapat mengimaninya dengan sempurna.
 

Semoga kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa memberikan kepuasan batin tersendiri, terlebih untuk Taqorrub ilallah :)
Sedikit tulisan yang morat marit dan tidak jelas ini semoga bisa bermanfaat :)
*Ramadhan Days 25
~Muthi'ah~
Share:  

Senin, 21 Juli 2014

Coretan Malam

Ternyata ini sudah terlalu larut Sodara :-)
Begitu tenang, hati, pikiran, tak ada gemercik sedikitpun. Tapi....
Pikiran yang mengusik manusia sepertinya enggan lenyap. Pikiran jangka pendek dan bahkan jangka panjang. 


Ya, ini ujian. Kita sedang beradu dengan kertas-kertas Ujian. Kita bisa membuatnya tergores rapi, hanya mencorat coret, bahkan membiarkannya usang.
Termasuk hati ini pun ujian. Jikalau dalam pilihan itu, ada pilihan untuk memainkan perasaan ini, aku akan memilih untuk 'tidak' bermain dalam perasaan kepada manusia. Belum waktunya aku menghabiskan waktu untuk berperasaan kepada manusia (baca=lawan jenis).
 

Mencintai Dzat Yang Maha Cinta pun aku belum bisa, kenapa aku sudah berani berperasaan dengan makhluk yang.... Entah,
Jika berakhirnya berperasaanku ini seperti ini, enggan sekali aku bermain dengan perasaan itu. Hanya mengusik yang menyesakkan.
 

Mencintai-Nya lebih indah, lebih tenang, dan pasti terbalas.
Perenungan di malam indah ini,
 

Apakah aku sudah bisa mencintai Dzat Pemberi Cinta Kasih Sayang dengan sempurna ?
Apakah aku sudah bisa mencintai Rasul Sang Habibullah ?
Apakah aku sudah bisa mencintai kedua orang tuaku dan keluargaku yang telah mencintaiku dengan tulus tanpa meminta imbalan ?
Memang wanita diciptakan dengan hati yang lembut, diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Yang jikalau manusia ingin mematahkannya, itu merupakan hal yang mudah.
 

Ya Allah...
Dzat pembolak balik hati,
Tetapkanlah hati hamba pada jalan-Mu
Penuhilah hati hamba dengan cinta Kepada-Mu, Rasul-Mu, orang tua, keluarga dan imamku kelak...
Yaa Arhamarrahimiin..
Share:  

Minggu, 06 Juli 2014

Dia Yang Berproses

Dari judul di atas, mungkin pada bertanya-tanya apa sih maksudnya.
Saya suka dia (lelaki) yang berproses, berproses untuk menjadi pribadi muslim yang kamil. Saya ada beberapa teman yang dulunya dia sangat awam sekali. Saya sedikit tahu tentang masa lalunya, meskipun bukan masa lalu yang kelam sih.
Dulunya dia seorang anak mama, dan bisa dibilang kurang asupan ilmu agama. Memang dia tidak ada basic pesantren seperti teman-teman (laki-laki) saya yang lain, jangan jauh-jauh peantren lah, madrasah misalnya.
Masa lalu yang jauh dari Sang Pencipta.
Menurut saya, mereka yang bisa menemukan jati diri mereka menjadi muslim yang kamil, lebih mengagumkan dari mereka yang memang sedari kecil sudah mengenal dekat Sang Pencipta dari keluarganya. 
Proses di mana mereka menemukan cinta-Nya, nikmat dan karunia-Nya. Mereka bisa mencintai-Nya dengan sempurna. Menjadi pribadi muslim kamil yang sholeh, sungguh idaman, hehehe.
Entah mengapa saya sangat kagum dengan mereka yang berproses daripada mereka yang makan ilmu agama, tapi tidak mencerminkan ilmunya dengan karakter yang baik.
Berharap mendapat suami yang seperti itu ?
Hehe, entahlah, Jodoh adalah rahasia yang sulit diterka. Lebih sulit menemukan jawaban siapa jodoh kita, daripada menjawab soal kalkulus :D
Tetap berdo'a, semoga diberikan jodoh yang terbaik, yang sholeh, yang melabuhkan cintanya kepada kita karena cinta-Nya. Amiin :)
Jaga beliau calon imamku ya Robbi, :)
Share:  

Marry ?

Alhamdulillah,
Setelah beberapa hari menyiapkan mental untuk menulis posting ini, malam ini saya benar-benar ingin berbagai kepada teman-teman semua :-)
Sebulan terakhir ini, saya dibuat bingung dengan keluarga saya, pas dua minggu setelah pulang dari pesantren, saya dikurung di dalam kamar. Ada apa ini ?
Bayangin, saya cuma bisa lihat dari dalam kamar. Dan saya makin bertanya-tanya. Ih orang-orang pada sibuk ngapain sih, pengen banget keluar. Pas hari apa gitu, ada orang datang ke rumah, saya semakin penasaran.
Ah, masa iya saya dijodohkan, -,-
Dan ternyata hipotesis saya benar. Ya Allah.... Ini beneran ?
Saya memutar otak. Hah ? Nikah ? Umur 19 tahun ? Mau saya apakan suami dan keluarga saya nanti. Saya masih terlalu kecil, belum ada sebulan keluar dari pesantren. Ya Robb...
Saya beranikan untuk bertanya ke Ibu, kenapa orang tua keukeh banget untuk menikahkan saya, dan beliau menjawab, ini amanah dari Bu Nyai, yang katanya untuk menikahkan saja saya. Perawan itu tidak baik kalo lama-lama sendirian.
Dengan siapa ? Saya pun belum tahu.
Orang rumah sibuk sekali menyiapkan acaranya. Gimana acaranya, tentang mas kawin, baju, dan tetek bengeknya, saya tidak tahu sama sekali. Saya masih tetap di dalam kamar. Sambil sembunyi-sembunyi, saya mengorek siapa calon suami saya.
Dia seorang mahasiswa, anak pondok juga, dia yatim piatu, dan katanya, suaranya merdu (hee...?-_-)
Itu yang saya dapatkan. Ya Allah, bagaimana saya bisa membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah jika belum mengenalnya ?
Tapi sugesti itu berubah, menjadi sebuah keyakinan. Takut, cemas, senang, mondar-mandir di otak. 
Saya hanya menghubungi dua orang teman saya (satu cewek dan satu cowok), temen deket banget. mereka kaget mendengar berita itu, ah saya saja kaget ._.
Pas sorenya mau akad, paginya, saya baru dikasi liat foto calon suami saya (sebenarnya saya pernah tau wajahnya sih, pas dia lagi ke rumah saya ngintip, hehehe).
Trus pas agak siang, saya baru ketemu secara langsung sama dia (padahal kurang berapa jam akad itu), ngobrol dikit, dan akhirnyaaaaaaaaaaaaaa....

==> jebret, saya terbangun dari mimpi konyol ini, hahahahahaa :D
LOL,
Saya langsung mengucap syukur "Alhamdulillah Ya Allah Ya Robbi Ya Kariim, ini cuma mimpi"
Sebenernya berharap ini kenyataan juga sii~` hahaha. Sekali-kali laah, saya posting tentang mimpi saya. Nama blognya aja 'MIMPI' jadi ngga salah kaaan :)
*Ini mimpi pas tanggal 23 Juni kemaren, pas lagi nginep di rumahnya adik kelas di Sidoarjo, :D
Share: