Lama-lama saya mirip nocturnal Sodara-sodara :D
Membicarakan tentang 'habit', saya hadi inget pernah baca statement begini 'Kamu sholat, ibadah-ibadah yang lain, itu karena apa ? Karena didikan orang tua, kewajiban yang kalau ditinggal berdosa apa gimana ?'.
Dari situ saya hanya manggut-manggut, oiya ya, rasanya lebih dari 15 tahun melakukan sholat karena 'kebiasaan' dan asal menggugurkan kewajiban. Begitu juga seperti puasa, menahan lapar dahaga saja. Ke masjid, i'tikaf, dilakukan hanya seperti rutinitas. Baca al-Qur'an, sekedar baca aja.
Waktu sudah berlalu belasan tahun, makan bangku sekolah lebih dari 10 tahun, alhamdulillah setelah 'metani' tanda tanya tersebut, muncullah suatu hakikat. Berbicara tentang hakikat maupun tasawuf, yang berandil besar adalah 'hati'. Hati yang dalam konteks ini adalah sebuah alat untuk bermain perasaan dan ego.
Saya cermati, mulai menggerakan otak untuk berfikir, mengolah hati untuk merasa. Akhirnya saya menemukan jawaban atas tanda tanya tersebut.
Ya, kebiasan-kebiasan 'syariat' di atas, yang telah mendarah daging, bukan hanya kebiasaan untuk memenuhi jasmani saja, tetapi kebiasaan yang menjadikan hati lebih tenang. Mengetahui satu persatu hakikat apa di dalamnya.
Misalnya, dulu-dulu baca al-Qur'an hanya untuk target cepat khatam, namun kini, membaca bukan sekedar membaca, tetapi membaca juga apa yang tersirat di dalamnya, meneliti tanda-tanda kebesaran Allah swt. Yang pada akhirnya akan semakin menumbuhkan keimanan kita. Dulu baca al-Qur'an asal lewat saja, sekarang alhamdulillah, jika menemukan kata maupun kalimat dalam ayat tersebut membuat penasaran, bisa dilihat di terjemah, di tafsir dan referensi lain agar lebih dapat mengimaninya dengan sempurna.
Semoga kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa memberikan kepuasan batin tersendiri, terlebih untuk Taqorrub ilallah :)
Sedikit tulisan yang morat marit dan tidak jelas ini semoga bisa bermanfaat :)
*Ramadhan Days 25
~Muthi'ah~
Membicarakan tentang 'habit', saya hadi inget pernah baca statement begini 'Kamu sholat, ibadah-ibadah yang lain, itu karena apa ? Karena didikan orang tua, kewajiban yang kalau ditinggal berdosa apa gimana ?'.
Dari situ saya hanya manggut-manggut, oiya ya, rasanya lebih dari 15 tahun melakukan sholat karena 'kebiasaan' dan asal menggugurkan kewajiban. Begitu juga seperti puasa, menahan lapar dahaga saja. Ke masjid, i'tikaf, dilakukan hanya seperti rutinitas. Baca al-Qur'an, sekedar baca aja.
Waktu sudah berlalu belasan tahun, makan bangku sekolah lebih dari 10 tahun, alhamdulillah setelah 'metani' tanda tanya tersebut, muncullah suatu hakikat. Berbicara tentang hakikat maupun tasawuf, yang berandil besar adalah 'hati'. Hati yang dalam konteks ini adalah sebuah alat untuk bermain perasaan dan ego.
Saya cermati, mulai menggerakan otak untuk berfikir, mengolah hati untuk merasa. Akhirnya saya menemukan jawaban atas tanda tanya tersebut.
Ya, kebiasan-kebiasan 'syariat' di atas, yang telah mendarah daging, bukan hanya kebiasaan untuk memenuhi jasmani saja, tetapi kebiasaan yang menjadikan hati lebih tenang. Mengetahui satu persatu hakikat apa di dalamnya.
Misalnya, dulu-dulu baca al-Qur'an hanya untuk target cepat khatam, namun kini, membaca bukan sekedar membaca, tetapi membaca juga apa yang tersirat di dalamnya, meneliti tanda-tanda kebesaran Allah swt. Yang pada akhirnya akan semakin menumbuhkan keimanan kita. Dulu baca al-Qur'an asal lewat saja, sekarang alhamdulillah, jika menemukan kata maupun kalimat dalam ayat tersebut membuat penasaran, bisa dilihat di terjemah, di tafsir dan referensi lain agar lebih dapat mengimaninya dengan sempurna.
Semoga kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa memberikan kepuasan batin tersendiri, terlebih untuk Taqorrub ilallah :)
Sedikit tulisan yang morat marit dan tidak jelas ini semoga bisa bermanfaat :)
*Ramadhan Days 25
~Muthi'ah~
0 komentar:
Posting Komentar