Dialah sosok wanita mulia di dunia ini, yang mana saat mata ini terbuka untuk pertama kalinya, beliaulah yang nampak di mata ini, -dan tentunya Bapak setelahnya-
Sedari kecil, bahkan saat bayi, mungkin aku adalah bayi yang sangat menyusahkan. Bidan memberi tahu bahwa bayi yang di dalam rahimnya berposisi tidak normal (baca= sungsang). Dengan pinggul sempit -kata orang saat aku kecil-, Beliau dengan penuh juang melahirkanku dengan normal tanpa operasi. Namun, lagi-lagi Salma kecil membuat resah keduanya, dengan berat 2,1 Kg dan panjang sekitar botol kecap, harus 'dioven' agar bisa mendapatkan berat badan yang normal. Terkadang kala listrik padam, keduanya menghangatkan Salma kecul dengan botol air hangat.
Hari dan tahun berlalu, masa balita terlewati, karena aku anak kedua, mungkin aku mendapatkan perhatian yang lebih. Sedari balita, aku sangat dekat denganya, meskipun jarang sekali aku bercerita tentang keseharianku padanya, tapi kami lebih dekat dalam batin.
Saat mulai remaja dan aku bukan anak 'terakhir' lagi setelah lahirnya adik laki-lakiku yang sangat ditunggu-tunggu, aku masih tetap menjadi 'anak manja' bagi keduanya.
Masa-masa remaja yang kulalui tanpa adanya keterbukaan dengan keduanya membuatku hidup introvert, ah jangankan untuk menceritakan masalah pribadi, tugas sekolahpun tak pernah kuceritakan.
Ingin rasanya seperti mereka yang sangat dekat dengan Bapak Ibunya.
Mulai aku rasakan kedekatan itu kala aku memutuskan untuk menimba ilmu di Pesantren, yang bisa dikatakan jauh dari tempat tinggalku -Blitar-. Ketika sudah dipersiapkan semua dengan sempurna, aku enggan meninggalkan rumah, dan orang yang paling terpukul saat aku meragu dengan niatku adalah Ibu. Ibu -yang menjadi penyalur kasih sayang Bapak juga- dengan sabar membujukku untuk menguatkan kembali niat ke Pesantren.
Saat di Pesantren pun, yang sering menjengukku di awal tahun adalah Ibu, dengan sepeda motor sederhana, dan bahkan terkadang Ibu rela melawan ketidaksukaannya naik bus kota karena 'mabuk' demi menengok gadis kecilnya di Pesantren. Ibu menerjang jauhnya jarak antara kami, Blitar-Jombang, menerobos air-air hujan seorang diri demi menyenangkanku, menjemputku saat libur tiba, menengokku ketika aku hanya sakit perut. Ah betapa besar kasih sayang itu.
Beranjak Mahasiswa, Ibu pula-lah yang sangat mengkhawatirkan Putrinya di perantauan. Namun, aku hanya meminta uang dan uang.
Semakin sedikit intensitas bertemu, semakin lekat pula rindu dan sayang ini.
Ketika suatu hari, di antara ketiga saudaraku, aku-lah yang pertama kali menjadi sandaran Ibu untuk bercerita, bahwa Beliau merasakan adanya benjolan di (maaf) Payudaranya. Sontak dadaku sesak mendengarnya.
Ikhtiar dan pengobatan-pengobatan alternatif pun Ibu lakukan. Dengan penuh kesabaran Ibu melawan penyakit itu. Ditengah kerja kerasnya melawan penyakit itu, Ibu tetap menjadi Ibu yang normal untuk anak-anaknya, menjadi Istri untuk suaminya dan menjadi Guru bagi murid-muridnya. Ibu tak pandang lelah melakukan semua itu.
Hingga akhirnya sel kanker itu semakin ganas dan membesar, yang mengharuskan Ibu mengikuti jalan medis, menjalani kemoterapi setiap 3 minggu sekali selama 6 kali, pulang pergi Blitar Malang. Berat badan menurun drastis. Rambut kepala yang mulai rontok menipis dan akhirnya tidak ada sehelai rambut pun tumbuh di sana.
Saat Ibu mengabari bahwa dokter memutuskan untuk mengoperasi dan mengangkat salah satu payudaranya, sontak dada ini sangat berat dan mata ini meneteskan air mata. Berbagai pikiran berkecamuk dalam hati dan otak. Yang sempat membuatku berpikir tidak jernih. Yang mana pada saat-saat itu, ada dua teman dekatku yang baru saja kehilangan orang terkasihnya, Ibu. Anda tahu sendiri kan apa yang ada dalam pikiranku saat seperti ini?
Namun aku harus tetap Husnudzon kepada Allah.
Hampir 6 jam aku menunggui Ibu di depan ruang operasi, yang di dalamnya Ibu sedang berjuang di bawah lampu-lampu operasi seorang diri. Berjuang melawan sakitnya. Berjuang demi ikhtiar kesembuhannya.
Duduk - berdiri - jalan - duduk lagi - begitu saja dengan bibir yang tak hentinya berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan Ibu.
Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, dan selanjutnya Ibu harus melakukan pengobatan rutin dan juga sinar.
Allah Maha Baik, Dia-lah yang memberikan penyakit itu dan Dia pula yang menyembuhkannya.
Di tengah berjuangnya Ibu untuk sehat kembali setelah operasi, ada banyak hikmah yang aku dapatkan. Rasa sayang yang dulu hanya 'biasa-biasa' saja menurutku, menjadi lebih besar untuk menyayangi dan menjaga Ibu. Bahwa berapapun umur kita, kita tetaplah anak kecil mereka yang suka bercerita dan ingin diperhatikan. Bahwa Ibu tetap setia menjadi pendengar keluh kesah putra putrinya, walaupun putra putrinya menghiraukan keberadaannya. Bahwa Ibu, Bapak akan selalu menyayangi dan mencintai putra putrinya seberapa tinggi atau rendah pun jabatan dan pendidikannya.
Ketika aku merasa bahwa waktu kecilku hingga besar, selalu dengan sabar Ibu merawatku, memanjakanku dengan menuruti apa saja yang aku inginkan, aku sadar bahwa tiada sekecilpun rasa kedongkolan Ibu saat merawatku.
Ketika aku mengingat itu, sudah menjadi kewajibanku untuk membalas budinya, merawatnya, menyeka tubuh lemahnya dengan satu payudara saja, memakaikan baju, terkadang menyuapi dan menyiapkan makanannya. Meski tak jarang aku merasa berat menjalaninya. Namun, siapa lagi yang akan merawatnya selain aku, padahal Ibu dulu dengan ikhlas dan penuh kasih sayang merawatku. Ya, inilah hikmah. Hikmah ketika aku diharuskan bersyukur. Hikmah bahwa ketika aku dirawat aku harus merawat, ketika aku disayang aku harus menyayangi.
Allah.. robbul 'izzati, sayangi dan kasihi kedua orang tua kami seperti halnya mereka mengasihi kami tatkala kami ingusan. Sertailah beliau dalam penjagaan-Mu. Panjangkanlah umurnya, sehatkanlah lahir batinnya dalam ketaqwaan dan ketaatan pada-Mu, lapangkanlah segala urusan dan rizkinya dan segerakanlah Beliau untuk mengunjungi, beribadah di rumah-Mu.
Ibu....
Selamat ulang tahun, tiada kata yang pantas aku ucapkan selain maaf dan terima kasih, untuk menjadi bagian dalam hidupku, menjadi tangan kanan Bapak untuk menyayangiku, Mbak dan Adik.
Ibu....
Mungkin sekalipun belum pernah aku membuat engkau bahagia dan bangga melahirkanku, baik dalam prestasi maupun tingkah laku. Mungkin engkau pernah merasakan ingin sekali mendengar nama putrimu ini dipanggil menjadi juara disuatu lomba, dipanggil sebagai lulusan terbaik, dipanggil menjadi mahasiswa di universitas bonafit, seperti halnya putra putri teman Ibu di luaran sana.
Namun aku berjanji untuk berjuang menjadi anak sholihah yang senantiasa mendoakan kedua orang tua, yang bersama bergandengan tangan menuju Jannah-Nya
Ibu....
Barangkali di luar sana banyak anak yang berlomba memberikan hadiah mewah, berlomba merayakan hari lahir Ibunya, maaf jika saat ini aku masih belum bisa memberikan itu semua pada Ibu
Ibu....
Mohon maaf jika aku pernah menyakiti hatimu, tidak menghiraukan perkataanmu
Ibu....
Mohon maaf jika aku pernah lalai dalam menjalakan kewajibanku sebagai anak
Ibu....
Mohon maaf jika aku pernah berfikir dan membandingkan Ibu dengan Ibu-ibu lain di luar sana, engkau tetap Ibu yang terbaik, dengan hati lembut dan tangan penuh kasih sayang
Ibu....
Semoga Allah senantiasa melindungi Bapak dan Ibu, do'akan kami menjadi anak yang sholih sholihah yang bibirnya tidak pernah kering untuk mendoakan Bapak dan Ibu
Happy Birthday to my lovely Mom,
(Karena isinya curahan hati dan ucapan selamat ulang tahun, jadi tidak ada banyak diksi di dalamnya 😂)
Blitar, 10 Desember 2016 00.57
0 komentar:
Posting Komentar