Jumat, 22 Agustus 2014

Tentang Syukur :-)

Dengan dipilihkannya saya pada jalan ini oleh-Nya, sempat terbersit rasa kekecewaan, putus asa, hingga kata-kata tak pantas pun sempat akan terlontarkan. Atas dasar 'bersyukur', tak sampailah kata-kata itu keluar. Alhamdulillah.
Hati terus bergejolak menerima kenyataan, ah kenapa harus di sini. Saya inginnya di sana. Pikiran itu terus berlari memutari pikiran dan hati saya. Terlebih ketika saya mendengar, ada teman yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri bonafide, mendapatkan beasiswa pula. Mendengar ada teman yang diterima di Ibu Kota, ada yang mengikuti beberapa jalur seleksi dan itu diterima semua.
Ah, manusiawi sekali jika saya sempat cemburu dengan mereka. Ada sesuatu yang menyayat hati sepertinya. Apalagi ketika mendengar cerita orang tua bahwa putra putri rekan beliau diterima di PTN yang menurut banyak orang terbilang 'Waw'. Sampai berkata dalam hati "Dulu 'melarang', sekarang malah memamerkan". Ingin marah sekali saya waktu itu. Namun saya bertanya-tanya, siapa yang harus saya marahi ? Apakah rumput-rumput dan binatang kecil yang tak berdaya itu menjadi objek kemarahan saya ? Ah tidak, mereka malah mendo'akan saya ketika menuntut ilmu. Orang tua ? Semakin tidak pantas melampiaskan kemarahan saya kepada beliau, beliau yang memberikan separuh lebih hidupnya untuk putra putrinya. Lalu siapa ? . 
Bertanya, bertanya, dan bertanya. Hingga akhirnya dengan bertanya-tanya tersebut, nafsu dan emosi saya hilang, dan saya dapat berfikir jernih kembali.
Ya, saya 'bukan' orang yang tidak beruntung ataupun kurang beruntung. Semua orang terlahir dari orang tua yang berbeda, dan tentunya dengan keberuntungan yang berbeda pula. 
Bagaimana pun dan apapun yang kita dapatkan atau kita raih, itulah rizki kita, keberuntungan kita. Semua orang di dunia iini beruntung, hanya bagaimana cara mereka mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan.
Alhamdulillaah... syukur hamba kepada-Mu Ya Robbi, dzat Pemberi Rizki, dzat Yang Jiwaku berada pada kekuasaan-Nya, dzat Yang Maha Pembolak balik hati, yang telah membalikkan hati hamba kepada jalan yang benar dan Engkau Ridhoi :-)



 
Share:  

Naaah... Ini Jalanmu #4

Ya,
Dan pada akhirnya, di Kota Pahlawanlah tempatku. Tertulis dengan sama pada pengumuman tersebut, "Selamat, Anda  diterima di jurusan Ekonomi Syari'ah UIN Sunan Ampel Surabaya".

Setelah melihat pengumuman tersebut, dengan membawa hati yang baru, menerima semuanya, mensyukuri apa yang telah diberikan. Berangkat untuk verifikasi data dengan perasaan tenang.

Rupa-rupanya memang nafsu akan Ibu Kota dan Kota Gudeg lah yang membuatku ragu akan kota Pahlawan.

Bismillah, inilah jalan yang selama ini Engkau rahasiakan dari hamba. Tak pernah tergambar dalam benak bahwa di Kota Pahlawanlah saya akan menimba ilmu.

Assalamu'alaikum Surabaya, :-)
Share:  

Kamis, 21 Agustus 2014

Naaah... Ini Jalanmu #3

Seleksi berlalu...

Bulan Ramadhan, penantian akan ke mana saya melanjutkan menimba ilmu ini akan terjawab.

Pada kesempatan di bulan suci tersebut, saya memanfaatkan detik demi detik yang penuh barokah tersebut untuk meminta dan meminta. Tanpa meminta, Allah swt. pun telah memberi kita,  dan Allah menyukai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya, yaa tentunya dengan syarat dan  ketentuan yang berlaku, hehehe...

Hingga tanggal itu tiba.
Sejak sahur, orang tua, terutama Ibu mendesak saya agar segera melihat pengumuman di laman resmi penyelenggara seleksi, namun karena pengumuman dijadwalkan pukul 17.00 WIB, akhirnya saya menunggu. Ditengah persiapan berbuka puasa, Ibu masih terus mendesak saya agar segera melihatnya. Dengan perasaan yang campur aduk, saya melihat pengumuman tersebut, walhasil "Selamat, Anda diterima di jurusan Ekonomi Syari'ah UIN Sunan Ampel Surabaya". Alhamdulillaah, all praises to Allah. Sedikit cerita, sedari H-1 pengumuman, saya memutar lagu Maher Zain yang berjudul Alhamdulillah, dan saya hanyut dalam lirik-liriknya hingga meneteskan air mata. Yaa, mungkin itu pertanda bahwa Allah akan memberikan saya sesuatu dan saya harus bersyukur.

Namun, lagi lagi manusia hina nan tamak ini belum puas dengan apa yang telah di dapat. Masih ada satu lagi pengumuman yang akan keluar satu minggu setelah pengumuman pertama. Saya masih berharap agar dapat diterima di Ibu Kota. Hingga seolah-olah saya begitu 'memaksa' agar Allah mengabulkan keinginan saya tersebut.

Pengumuman kedua bertepatan dengan saya melakukan verifikasi data, ketika ditanya apakah saya yakin dengan pilihan di Surabaya tersebut, saya hanya menjawab "Entahlah". Berat sekali menerimanya. Ya, karena nafsu saya melapisi tiap-tiap akal sehat saya. Setelah Subuh saya harus segera berangkat ke Surabaya. Malam harinya saya sulit sekali memejamkan mata. Waktu sahur tiba, belum sempat apa-apa, baru membuka mata, saya langsung mencari telepon seluler saya untuk melihat pengumuman. Entah berapa bismillah dan sholawat saya ucapkan saat detik-detik itu. Dan pada akhirnya............... 
Share:  

Rabu, 20 Agustus 2014

Naaah... Ini Jalanmu #2

Ketika sebuah Bunga Mawar yang merah merekah berada beberaoa langkah di depan kita, apakah kita tidak berusaha meraihnya, meskipun jalanan yang beberapa langkah itu jalannya terjal dan berbatu ?

Dan keinginan yang menggebu itu telah bersemayam sejak lama. Yaah, tentang sebuah Beasiswa. Siapa sih yang nggak pengen dapat itu. Untuk meringankan beban orang tua, dan membanggakan semuanya. Semua saya kira sudah saya lakukan, do'a, usaha, ikhtiar dan tawakal. Namun apalah daya, Sang Maha Pemberi agaknya belum mengizinkan untuk mendapatkan beasiswa spesial itu. Banyak yang lebih pantas dan membutuhkan daripada saya. Alhamdulillah, disyukuri saja. Meskipun sedikit ada kekecewaan yang bersemayam. Namun dengan bersyukur itu, kekecewaan berangsur-angsur menghilang.


Selanjutnya tentang sebuah keinginan saya untuk melanjutkan di Ibu Kota.

Memang dari awal, orang tua tidak menyetujui akan hal itu. Dengan alasan yang terbaik tentunya. Namun setan Ibu Kota sepertinya sudah merasuki diri. Dengan diam-diam, saya mengisi salah satu PTN di sana pada pilihan studi saya saat Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi. Do'a do'a do'a dan ikhtiar telah saya lakukan. Berharap semoga Allah swt. mengabulkannya.

Di tengah panjangnya perjalanan penantian. Tiba-tiba ada sebersit keinginan untuk melanjutkan studi di Kota Pahlawan, namun tidak terlalu menggebu. Hingga pada akhirnya, tes seleksi itu dilaksanakan. Dengan persiapan yang seadanya, saya menjalani tes tersebut.


Bersambung....
Share:  

Minggu, 17 Agustus 2014

Naaah... Ini Jalanmu #1

Dilema akan ke mana saya melanjutkan pencarian ilmu ini semakin bergelantungan dalam fikiran. Sejak kelas 11 sudah banyak yang memberi saran untuk segera memikirkan hendak ke mana kaki ini ingin melangkah. Yang ada hanya bayangan bayangan dan bayangan. 

Saya ingin ke situ, ah ke situ saja, emm di sana aja kali ya, nama universitasnya beken. Banyak sekali keinginan.
Waktu semakin bergulir, hingga keputusan itu harus segera diputuskan. Tidak menafikkan diri, sebagai pelajar pada umumnya, pastilah ada rasa di mana 'gengsi' itu timbul. Seperti halnya ketika ingin mendaftarkan diri pada universitas yang bonafide.
Namun, didasari akan realita dan kemampuan yang ada, serta rasionalitas dalam memilih perguruan tinggi, semakin menyusutkan niat untuk mengajukan diri pada universitas tersebut. 


Hati manusia siapa yang tahu...
Kemarin berkeinginan seperti itu, sekarang keinginan yang lain muncul lagi.
Bersambung.......
Share:  

Sabtu, 26 Juli 2014

S a h a b a t

Setelah kemarin tak sadarkan diri selama 15 jam Sodara-sodara..
Memetik pelajaran. 


Persahabatan :)
Ketika terbesit 'ingin punya pacar, biar ada yang nemenin, ada yang merhatiin, ada yang dikangenin, ada yang dicemburuin'
 

Dan ketika bayangan itu menjadi nyata, seakan hidup hanya untuk kekasih. Cerita ke sahabat 'guys, aku udah punya pacar lho, dia gini gini gini gitu bla bla bla', sahabat akan menjawab 'selamat ya, semoga langgeng, seneng deh kalo kamu seneng'. Meskipun si sahabat dalam hatinya 'sepertinya posisiku sudah tergantikan, yaah semoga kau bahagia dengannya sahabat'.
 

Waktu berjalaaan.....
Hampir setiap hari cerita 'eh eh tau ngga, pacar aku gini lho, gitu lhoo' sahabat hanya tersenyum bahagia melihat sahabatnya bahagia, meskipun ada sedikit kecemburuan.
 

Saat diputusin, nangis darah (lebey) ngga mau ngapa-ngapain, cerita ke sahabat 'guys, aku putus :'( ''
Saat itu pula pelukan hangat sahabat akan menenangkanmu,
Saat senang, sahabat ada
Saat ga punya uang, sahabat ada
Saat kesepian, sahabat ada
 

Bahkan saat sedihpun, pundak sahabat akan tetap bersedia untuk memberimu sandaran :)
Membuatmu tersenyum, mengingatkan bahwa sahabat selalu menyayangimu :)
Sahabat bisa orang tua, keluarga, maupun teman.
Dia akan selalu ada :)
Share:  

Rabu, 23 Juli 2014

A habit

Lama-lama saya mirip nocturnal Sodara-sodara :D
 

Membicarakan tentang 'habit', saya hadi inget pernah baca statement begini 'Kamu sholat, ibadah-ibadah yang lain, itu karena apa ? Karena didikan orang tua, kewajiban yang kalau ditinggal berdosa apa gimana ?'.
 

Dari situ saya hanya manggut-manggut, oiya ya, rasanya lebih dari 15 tahun melakukan sholat karena 'kebiasaan' dan asal menggugurkan kewajiban. Begitu juga seperti puasa, menahan lapar dahaga saja. Ke masjid, i'tikaf, dilakukan hanya seperti rutinitas. Baca al-Qur'an, sekedar baca aja.
 

Waktu sudah berlalu belasan tahun, makan bangku sekolah lebih dari 10 tahun, alhamdulillah setelah 'metani' tanda tanya tersebut, muncullah suatu hakikat. Berbicara tentang hakikat maupun tasawuf, yang berandil besar adalah 'hati'. Hati yang dalam konteks ini adalah sebuah alat untuk bermain perasaan dan ego.
 

Saya cermati, mulai menggerakan otak untuk berfikir, mengolah hati untuk merasa. Akhirnya saya menemukan jawaban atas tanda tanya tersebut.
Ya, kebiasan-kebiasan 'syariat' di atas, yang telah mendarah daging, bukan hanya kebiasaan untuk memenuhi jasmani saja, tetapi kebiasaan yang menjadikan hati lebih tenang. Mengetahui satu persatu hakikat apa di dalamnya.
 

Misalnya, dulu-dulu baca al-Qur'an hanya untuk target cepat khatam, namun kini, membaca bukan sekedar membaca, tetapi membaca juga apa yang tersirat di dalamnya, meneliti tanda-tanda kebesaran Allah swt. Yang pada akhirnya akan semakin menumbuhkan keimanan kita. Dulu baca al-Qur'an asal lewat saja, sekarang alhamdulillah, jika menemukan kata maupun kalimat dalam ayat tersebut membuat penasaran, bisa dilihat di terjemah, di tafsir dan referensi lain agar lebih dapat mengimaninya dengan sempurna.
 

Semoga kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa memberikan kepuasan batin tersendiri, terlebih untuk Taqorrub ilallah :)
Sedikit tulisan yang morat marit dan tidak jelas ini semoga bisa bermanfaat :)
*Ramadhan Days 25
~Muthi'ah~
Share:  

Senin, 21 Juli 2014

Coretan Malam

Ternyata ini sudah terlalu larut Sodara :-)
Begitu tenang, hati, pikiran, tak ada gemercik sedikitpun. Tapi....
Pikiran yang mengusik manusia sepertinya enggan lenyap. Pikiran jangka pendek dan bahkan jangka panjang. 


Ya, ini ujian. Kita sedang beradu dengan kertas-kertas Ujian. Kita bisa membuatnya tergores rapi, hanya mencorat coret, bahkan membiarkannya usang.
Termasuk hati ini pun ujian. Jikalau dalam pilihan itu, ada pilihan untuk memainkan perasaan ini, aku akan memilih untuk 'tidak' bermain dalam perasaan kepada manusia. Belum waktunya aku menghabiskan waktu untuk berperasaan kepada manusia (baca=lawan jenis).
 

Mencintai Dzat Yang Maha Cinta pun aku belum bisa, kenapa aku sudah berani berperasaan dengan makhluk yang.... Entah,
Jika berakhirnya berperasaanku ini seperti ini, enggan sekali aku bermain dengan perasaan itu. Hanya mengusik yang menyesakkan.
 

Mencintai-Nya lebih indah, lebih tenang, dan pasti terbalas.
Perenungan di malam indah ini,
 

Apakah aku sudah bisa mencintai Dzat Pemberi Cinta Kasih Sayang dengan sempurna ?
Apakah aku sudah bisa mencintai Rasul Sang Habibullah ?
Apakah aku sudah bisa mencintai kedua orang tuaku dan keluargaku yang telah mencintaiku dengan tulus tanpa meminta imbalan ?
Memang wanita diciptakan dengan hati yang lembut, diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Yang jikalau manusia ingin mematahkannya, itu merupakan hal yang mudah.
 

Ya Allah...
Dzat pembolak balik hati,
Tetapkanlah hati hamba pada jalan-Mu
Penuhilah hati hamba dengan cinta Kepada-Mu, Rasul-Mu, orang tua, keluarga dan imamku kelak...
Yaa Arhamarrahimiin..
Share:  

Minggu, 06 Juli 2014

Dia Yang Berproses

Dari judul di atas, mungkin pada bertanya-tanya apa sih maksudnya.
Saya suka dia (lelaki) yang berproses, berproses untuk menjadi pribadi muslim yang kamil. Saya ada beberapa teman yang dulunya dia sangat awam sekali. Saya sedikit tahu tentang masa lalunya, meskipun bukan masa lalu yang kelam sih.
Dulunya dia seorang anak mama, dan bisa dibilang kurang asupan ilmu agama. Memang dia tidak ada basic pesantren seperti teman-teman (laki-laki) saya yang lain, jangan jauh-jauh peantren lah, madrasah misalnya.
Masa lalu yang jauh dari Sang Pencipta.
Menurut saya, mereka yang bisa menemukan jati diri mereka menjadi muslim yang kamil, lebih mengagumkan dari mereka yang memang sedari kecil sudah mengenal dekat Sang Pencipta dari keluarganya. 
Proses di mana mereka menemukan cinta-Nya, nikmat dan karunia-Nya. Mereka bisa mencintai-Nya dengan sempurna. Menjadi pribadi muslim kamil yang sholeh, sungguh idaman, hehehe.
Entah mengapa saya sangat kagum dengan mereka yang berproses daripada mereka yang makan ilmu agama, tapi tidak mencerminkan ilmunya dengan karakter yang baik.
Berharap mendapat suami yang seperti itu ?
Hehe, entahlah, Jodoh adalah rahasia yang sulit diterka. Lebih sulit menemukan jawaban siapa jodoh kita, daripada menjawab soal kalkulus :D
Tetap berdo'a, semoga diberikan jodoh yang terbaik, yang sholeh, yang melabuhkan cintanya kepada kita karena cinta-Nya. Amiin :)
Jaga beliau calon imamku ya Robbi, :)
Share:  

Marry ?

Alhamdulillah,
Setelah beberapa hari menyiapkan mental untuk menulis posting ini, malam ini saya benar-benar ingin berbagai kepada teman-teman semua :-)
Sebulan terakhir ini, saya dibuat bingung dengan keluarga saya, pas dua minggu setelah pulang dari pesantren, saya dikurung di dalam kamar. Ada apa ini ?
Bayangin, saya cuma bisa lihat dari dalam kamar. Dan saya makin bertanya-tanya. Ih orang-orang pada sibuk ngapain sih, pengen banget keluar. Pas hari apa gitu, ada orang datang ke rumah, saya semakin penasaran.
Ah, masa iya saya dijodohkan, -,-
Dan ternyata hipotesis saya benar. Ya Allah.... Ini beneran ?
Saya memutar otak. Hah ? Nikah ? Umur 19 tahun ? Mau saya apakan suami dan keluarga saya nanti. Saya masih terlalu kecil, belum ada sebulan keluar dari pesantren. Ya Robb...
Saya beranikan untuk bertanya ke Ibu, kenapa orang tua keukeh banget untuk menikahkan saya, dan beliau menjawab, ini amanah dari Bu Nyai, yang katanya untuk menikahkan saja saya. Perawan itu tidak baik kalo lama-lama sendirian.
Dengan siapa ? Saya pun belum tahu.
Orang rumah sibuk sekali menyiapkan acaranya. Gimana acaranya, tentang mas kawin, baju, dan tetek bengeknya, saya tidak tahu sama sekali. Saya masih tetap di dalam kamar. Sambil sembunyi-sembunyi, saya mengorek siapa calon suami saya.
Dia seorang mahasiswa, anak pondok juga, dia yatim piatu, dan katanya, suaranya merdu (hee...?-_-)
Itu yang saya dapatkan. Ya Allah, bagaimana saya bisa membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah jika belum mengenalnya ?
Tapi sugesti itu berubah, menjadi sebuah keyakinan. Takut, cemas, senang, mondar-mandir di otak. 
Saya hanya menghubungi dua orang teman saya (satu cewek dan satu cowok), temen deket banget. mereka kaget mendengar berita itu, ah saya saja kaget ._.
Pas sorenya mau akad, paginya, saya baru dikasi liat foto calon suami saya (sebenarnya saya pernah tau wajahnya sih, pas dia lagi ke rumah saya ngintip, hehehe).
Trus pas agak siang, saya baru ketemu secara langsung sama dia (padahal kurang berapa jam akad itu), ngobrol dikit, dan akhirnyaaaaaaaaaaaaaa....

==> jebret, saya terbangun dari mimpi konyol ini, hahahahahaa :D
LOL,
Saya langsung mengucap syukur "Alhamdulillah Ya Allah Ya Robbi Ya Kariim, ini cuma mimpi"
Sebenernya berharap ini kenyataan juga sii~` hahaha. Sekali-kali laah, saya posting tentang mimpi saya. Nama blognya aja 'MIMPI' jadi ngga salah kaaan :)
*Ini mimpi pas tanggal 23 Juni kemaren, pas lagi nginep di rumahnya adik kelas di Sidoarjo, :D
Share:  

Minggu, 29 Juni 2014

Si Do'i Yang Spesial Banget :*

Marhaban Yaa Romadlon...
Alhamdulillah wa syukru lillah :)
Masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh berkah dan maghfiroh ini. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya oleh semua kaum muslimin. Yang datengnya setahun sekali.
Ngomongin bulan Romadlon, si do'i ini bener-bener spesial banget dah, lihat di tv, dumay, radio semua pada ngomongin do'i. Dari mulai makanan, minuman, pakaian, public house, semua pada bikin yang spesial di bulan yang spesial ini. Ngga cuma muslim aja yang seneng, yang bukan non muslim pun bisa kecipratan big sale nya Romadlon, hehehe.
Semua orang berlomba-lomba untuk meningkatkan ketaqwaannya pada Alloh swt. Khatam al-Qur'an, Majlis ta'lim, ibadah-ibadah sunnah, dsb. Memang bener-bener spesial.
Ditambah lagi dengan adanya Malam Lailatul Qodar di sepuluh hari terakhir bulan spesial ini :) menjadikan bulan ini sebagai bulan yang paling ditunggu-tunggu. Yang biasanya di masjid cuma ada beberapa butir orang, jadi penuh banget. Lima waktu jama'ah di masjid. Yang biasanya khatam al-Qur'an 6 bulan sekali, dalam satu bulan ini, bisa lima kali, subhanallah... Sungguh bulan yang mulia.
Tapi eh tapi, kasian sekali Romadlon kali ini, para anak Adam, khususnya di Indonesia, agaknya menigakan Romadlon nih, dengan piala dunia dan pemilihan presiden. Yaah semoga kita tidak termasuk orang yang merugi.
Kalau sudah ditinggalkan Romadlon, jangan malah kendor semangat ibadahnya, awas terserang futur, fastabiqul khoirot :)
Allahumma innaka 'afuwwun karim, tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni :)
 
Share:  

Jumat, 20 Juni 2014

Hakikatnya



Wanita,
Pernikahan
Kenapa tiba-tiba saya ingin posting ini. Karena menurut saya, 2 tag tersebut sangatlah beepengaruh. Semakin lama, usia akan semakin tua, semakin berkurang. Dan pembicaraan mengenai hal tersebut bukanlah hal yang tabu. Apalagi saya yang masih berusia 19 tahun ini. Mungkin ini posting teraneh saya. Saya belum pernah mengalaminya. Dan kesemua posting saya, saya sudah mengalaminya.

Bermula dari pandangan saya tentang pernikahan. Pernikahan bukan lah sebuah permainan, drama maupun teater. Ini merupakan sunnah Rosul dan menyempurnakan separuh agama. Ibadah yang dilakukan setelah membina rumah tangga akan berlipat pahalanya, disbanding dengan sebelumnya. Orang tua menjadi yang kedua, setelah pasangan. Betapa mulianya seorang suami itu, orang tua yang membesarkan dari dalam kandungan hingga dewasa dan matang saja diduakan dengan kehadiran suami. Yang dulunya ridho Allah ridho orang tua juga, namun setelah adanya pengucapan Ijab dan Qobul di depan wali dan saksi, ridho Allah terletak pada ridho sang Suami. Berbahagialah anda-anda yang akan menjadi suami (hehehe J).

Kedua, tentang hakikat seorang istri. Saat saya ditanya oleh seorang teman, tentang pandangan perkuliahan, dia bertanya “Mbak, menurut mbak, kuliah itu kita pilih sesuai bakat atau prospek kerja”. Dengan mantap saya menjawab “Yang utama itu mencari ilmunya, tentang prospek kerja ke depannya, kalau saya pribadi, saya tidak begitu memikirkannya, meskipun itu juga penting, saya lebih mementingkan fitrah saya yang kelak akan menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak saya. Fitrah untuk merawat keluarga dan menjaganya. Sudah jelas dalam hadits nabi saw. Bahwa Wanita akan dimintai pertanggung jawaban atas rumah suaminya (rumah tangga). Tapi tidak ada salahnya jika kita menjadi ibu rumah tangga yang intelek. Dan intelegensi juga sangat dibutuhkan untuk mendidik anak-anak kita kelak. Karena pendidikan anak berawal dari keluarga, terutama ibu. Jadi menuntut ilmu sangat diperlukan untuk mendidik anak-anak kita kelak.

Posting yang mungkin ini merupakan ke-sok tahu-an saya, yang saya sendiri belum pernah mengalaminya. Saya bergitu tertarik tentang ‘Pernikahan’ bukan berarti saya ngebet nikah muda, tetapi saya sedang menelaah bahwa pernikahan itu bukan permainan yang hanya senang-senang di awal. Namun bagaimana berbakti kepada suami, mendidik anak, menjaga keutuhan rumah tangga dan menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah.

Ingat, pernikahan bukan permainan yang hanya untuk bersenang-senang saja. Oleh karena itu, persiapkan semuanya sebelum hari itu tiba. Semoga kita selalu dalam naungan Ridho-Nya.

Share:  

Selasa, 10 Juni 2014

Akan ada gantinya :')

Alhamdulillah :')

Hanya bisa bersyukur meskipun sedikit kecewa. Allah telah menganugerahi saya kebesaran hati (padahal tu hati pernah liver kayanya :D ).
Apapun yang saya terima hari ini, ini merupakan takdir-Nya, jawaban atas semua do'a, dan saya tetap bersyukur. Ini yang terbaik buat saya. Masih ada rencana indah Allah di depan sana :)

Well,

Pertama, saya ikut snmptn (itu looh, seleksi masuk perguruan tinggi lewat jalur nilai raport), mengambil ptn pertama di Universitas Brawijaya, prodi Ilmu Gizi. Di sini saya berfikir, kemampuan IPA saya hanya sebatas 'makanan yang baik itu 4 sehat yang terdiri dari nasi, lauk, sayur dan buah serta 5 sempurna ditambah susu (anak TK aja tau kaleee ._.). Dengan tertolaknya saya di sini, saya bisa mengambil pelajaran, mungkin di sana akan memberatkan saya, karena kemampuan saya yang minim, kedua banyak yang lebih tokcer otaknya dibandingkan saya, ketiga mungkin di sana tidak baik untuk saya. Pilihan kedua, saya memilih UIN Malang, prodi Farmasi dan Teknik Informatika (naah looh, makin tinggi aja pilihannya). Tertolak juga, pelajaran yang diambil juga sama, malah ini lebih tak tau diri, kemampuan oey kemampuan, lihat itu. -____- . Kalau semisal saya diterima, mungkin akan memberatkan saya, kafrena di Farmasi, akan banyak bermain dengan Kimia, yang notabene saya eneg dengan Kimia, hehehe ^_^

Kedua, ini merupakan impian saya, pbsb (beasiswa pesantren untuk santri dari kemenag). Bukan iming-iming biaya pendidikan dan living cost yang besar yang saya inginkan, akhir dari pendidikan itu, mengabdi ke pesantren asal. Banyak pihak yang menaruh harapan pada ini, termasuk orang tua, pengasuh dan sekolah. Karena impian hebat itu, saya berusaha semaksimal mungkin. Penuh perjuangan, dari mulai menunggu pendaftaran dibuka. Sedikit cerita, H-2 sebelum pendaftaran dibuka, saya sempat berfirasat lewat mimpi. Pendaftaran online sudah selesai, dapet kabar kalau berkas dikirim sendiri ke kantor kemenag provinsi yang di Sidoarjo (naah looh, bingung lagi, tapi pada akhirnya sekolah yang ngirim). Pukul 16.00 pengumpulan berkas terakhir di sekolah, jam 9 pagi ditelfon teman kalau harus ke kantor kemenag Jombang buat minta surat keterangan, dan surat keterangan itu membutuhkan surat dari pesantren, waktu itu abah sama ibu tindak ke Bandung, bingung ._. Akhirnya, saya memberanikan diri sms ibu nyai, alhamdulillah ada jalan. Langsung saya menuju kantor kemenag ditemani teman saya, menunggu sampai jam 2 siang, alhamdulillah kelar juga. Perjuangan belum berakhir, masiih ada tes di depan mata. Do'a, usaha, ikhtiar, sudah. Semakin down saat melihat peserta dari pesantren  lain yang lebih hebat, menciut -____- . Tes berakhir, tinggal tawakkal.
Dan pada akhirnya, Jakarta menolakku :'( . Alhamdulillah, tidak apa. Sadar diri akan kemampuan juga, kemampuan sebatas ini, ambil jurusan Kedokteran dan Keperawatan, sadar diri oey. Dan banyak yang lebih berhak menerima beasiswa itu. Kecewa, tak bisa dipungkiri, saya kecewa. Impian hebat yang sudah saya impikan bertahun-tahun, kandas. 

Tapi rasa syukur masih lebih besar, mungkin karena dari awal bapak ibu tidak ingin saya kuliah jauh-jauh. Lalu, apa arti semua mimpi saya ? ah, mungin hanya bunga tidur.

Janji Allah, ud'unii astajib lakum, bedo'alah, memintalah kepada Allah, niscaya akan Allah kabulkan. Entah mengabulkannya sama persis dengan yang diminta, atau menggantinya dengan yang lebih baik, dan tidak menutup kemungkinan, do'a akan terkabulkan kepada anak-cucu kita.

Masih ada jalan, Allah tahu mana yang terbaik untuk kita, tapi Allah menunggu saat yang tepat untuk memberikannya kepada kita. :-)
Selalu semangat, jangan pernah menganggap Allah tidak adil dan tidak sayang kepada kita, ini yang terbaik untuk kita. Allah menyayangi semua hamba-Nya :) 
Share:  

Minggu, 01 Juni 2014

Sabar dalam Diam atau Sabar dan Berusaha ?

Entah kenapa tiba-tiba saya berfikiran untuk posting ini.
Menikmati kebosanan itu bisa dengan berbahagia, sedih maupun mengeluh. Menurut saya itu hal yang manusiawi. Seseorang memiliki emosi, jika bisa mengalahkan emosi, berarti ia seorang pemenang, namun jika tidak, ia telah menjadi budak emosi. Kepenatan seseorang bisa terjadi kapan saja, di mana saja dan kepada siapa saja. Manusia dianugerahi hati (=baca : perasaan) dan fikiran untuk menimbang apa yang akan dia lakukan, agar tidak gegabah dan salah langkah nantinya. Memadukan keduanya sangat sulit, namun jika ada usaha untuk bangkit, pasti hal itu bisa menjadi hal yang sangat mudah.
Sering mendengar kata 'mengeluh', banyak sekali makna 'mengeluh'. Ada yang mengeluh karena manja, karena ingin diperhatikan dan ada yang mengeluh karena ingin diberi masukan. Meskipun pada hakikatnya, terutama dalam tasawuf, 'mengeluh' itu sangat tidak dianjurkan. Namun jika mengeluh dengan tujuan ingin mendapat suatu wejangan atau pencerahan, apa salahnya ?. Dalam hadits nabi Muhammad saw. saja membolehkan kita mengeluh saat sakit, dengan tujuan pengobatan, mengeluh ke dokter misalnya, siapa tahu Allah menitipkan kesembuhan kita pada tangan dokter tersebut :).
Begitu pula jika tengah dirundung kepenatan dan kegelisahan, mengeluh kepada Allah memang jalan yang sangat utama, karena Kepada-Nya-lah hamba berserah diri. Namun, sekali lagi, tidak ada yang tahu akan rahasia Allah swt, mungkin melalui hambanya, Allah titipkan jawaban atas kepenatan dan kegelisahan tersebut. Bukan mengajak untuk mengeluh, hanya memberi pengalaman saya ketika ada beberapa teman yang menggeluh atau lebih halusnya 'curhat'. Dengan begitu, saya mendapat banyak pengalaman dan pengetahuan tentang emosional berbagai macam orang. Bisa belajar mengolah fikiran :). 

Dalam kepenatan dan kegelisahan serta kebosanan, ketika mengeluh, akan banyak yang berkata "sabar aja bos". Sabar yang bagaimana ini, sabar dengan hanya berdiam diri, bersemedi, hibernasi menunggu keajaiban datang dan menunggu rembulan berubah menjadi kotak ? . Tidak tentunya. Sabar dan berusaha. Sulit ? memang, menulis saja mudah, namun penerapannya masih sulit. Usaha tidak harus secara langsung, bisa step by step. Yang paling awal, usaha menata hati dan mengalahkan salah satu di antara berbagai pertimbangan, jika hanya menimbang-nimbang, tak akan berakhir, harus ada yang dimenangkan dan pasti ada yang dikalahkan. Yang dikalahkan bukan berarti tidak penting, namun harus sabar agara yang menang berhasil terlebih dahulu :) .
Terakhir, menggalahkan emosi itu lebih sulit daripada mengalahkan lawan perang yang jumlahnya 100 kali lebih banyak dari kita :).
Bismillah... Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya dan Mengetahui apa yang masih sirri dalam diri kita.
Yaa 'alima sirri minna, laa tahtiki sitro 'anna.. :)



Di pojok Aula Gedung Kuning
-dalam kesendirian-

Share:  

Jumat, 30 Mei 2014

(e)R A (e)S A

Tentangmu tercipta sebuah rasa. Rasa itu ada karenamu. Kau yang menumbuhkan rasa itu. Entah rasa apa, jeruk mungkin. Yang bisa menciptakan asam manis dihatiku. Rasa kadang bisa mengalahkan segalanya. Hanya sebatang korek api kecil, bisa melahap habis sebuah bangunan, begitu juga setetes rasa, bisa meluluhlantahkan jiwa. Terlalu berlebihan, itu juga sebab rasa yang menggelayut bergelantungan dalam jiwa. Rasa, rasa dan rasa. Karena rasa, manusia punya banyak cerita :-) ada rasa asam, manis, pahit dan hambar, membumbui perjalanan hidup ini. Rasa sayang, rasa cinta, rasa benci, rasa marah, rasa iba, rasa empati, hingga es krim rasa coklat :D . Hati-hati dengan rasa, karena rasa bisa membodohkan orang yang jenius sekalipun, membakar rumah eskimo, membekukan inti bumi B-) . Dan akhir kalam, bersyukurlah karena kita masih mempunyai rasa :-).


Haha, ada pujangga turun dari ranjang.
Yaa, berbicara soal rasa, apalagi rasa cinta yang tiba-tiba muncul. Eits, ngomong CINTA, emang elu tau cinta itu apa dan bagaimana (mungkin dia salah satu makanan ringan yang mirip sama kebab turki isi daging kambing kali ya :D ). Ah, sok jadi anak muda aja ngomongin cinta, qiqiqiqi. Kata orang (bukan kata aye -_-). Cinta itu bisa bikin orang yang jatuh cinta serasa ada kupu-kupu dalah hatinya (naah loo, bawa virus liver baru tau rasa lu :p ). Pemuda sekarang (aye pemuda jaman dahulu ^_^ ), dikit-dikit bilang cinta, I Love You (padahal kalo pake simple present, itu bisa jadi I (will) Love You, I (always) Love You, bahkan I (never) Love You, nah loo :p . Aku tak bisa hidup tanpamu (gombal yang kaga pernah dicuci), emang cinta itu nafas ? Yang punya kehidupan siapa ? Yang Punya Cinta kan, bukan yang dianugerahi rasa cinta. 
Sering baca buku tentang arti cinta, tapi akhirnya tetep aja aye belum paham, Ma Huwa Hubb ? . 
Yang lagi ngetrend sih "Cinta itu tak bersyarat, tidak mengenal kata Jika", Cinta tanpa syarat. Cinta yang tidak bisa didefinisikan.
Ntahlah, cinta dengan manusia itu masih membuat aye bingung. Yang pasti, jangan sampai tidak Cinta Kepada Sang Pemilik Cinta, karena Dia-lah cinta yang hakiki. Dan cinta kepada Rasul-Nya, Sang Penerang Kegelapan :))
Cintailah terlebih dahulu Yang Menciptakan, lalu mencintai yang Diciptakan, from active to passive <3
Share:  

Selasa, 20 Mei 2014

Bagaimanapun, Tetap Bersyukur :))

20 Mei,
Antara sedih, kecewa dan bahagia, melimpah ruah dalam hati dan fikiran. Bagaimana tidak, hari ini benar-benar hari penentuan hasil belajar selama 3 tahun ini dijenjang Sekolah Menengah Atas. Bukan ini sebenarnya tujuan utama, namun apalah daya, saya hanya manusia biasa yang jauh dari sifat zuhud. Kata "Lulus" merupakan satu kata penting, namun bukan prioritas. Bagaimana tidak, jika saya gagal, saya akan mengecewakan seluruh dunia, terutama orang tua yang telah susah payah mengeluarkan usaha jiwa raga dan finansial untuk keberlangsungan pendidikan saya. Bagaimana tidak, kakak saya, telah gagal dalam UN ditahunnya, hal itu sangat membuat orang tua terpukul, dan alhamdulillah saya bisa sedikit mengobati itu, meskipun dengan hasil yang bisa dikata jauh dari memuaskan.
Lulus saja saya sudah sangat bersyukur, anda bisa bayangkan, kemampuan otak saya yang sangat pas-pasan dalam bidang sains ini, nekat untuk mengerjakan soal-soal UN dengan murni, teman yang pandai sekalipun masih sedikit menggantungkan pada 'kertas hitam', bagaimana dengan saya ? . Melihat nilai yang selalu istiqomah dari Try Out 1 sampai UN berakhir, yang statis diangka 4,5,6 dan 7 sangat miris, tapi inilah kemampuan saya. Melihat teman yang nilainya gemuk-gemuk (=baca 8,9 bahkan 10) sedikit ada rasa 'marah' yang bergelayutan, apakah mereka benar-benar murni ? Entahlah, tak boleh su'udzon.
Apakah penting nilai UN yang gemuk-gemuk itu ? Jika mendapatkannya dengan hasil yang bathil ? Wallahu a'lam :) . Hingga ada teman saya yang bercerita, ketika dia mengabarkan kabar kepada orang tuanya bahwa dia lulus dengan nilai yang baik, orang tuanya malah berkata "Ayah tidak butuh nilai UN mu baik, ayah butuh nilai Akhlakmu yang baik ". (Naah loo).
Saya menarik hipotesis bahwa sebagian orang tua akan bangga jika anaknya mendapat nilai Akhlak dan karakter yang baik, apalagi ditambah dengan nilai UN yang bagus, mereka akan lebiih bangga. Seperti orang tua saya yang selalu berkata "Kami tak butuh nilaimu bagus, kami hanya ingin ilmumu manfaat dunia akhirat, karena kami hanya bisa mewariskan ilmu dengan menyekolahkanmu sampai tinggi, bukan harta yang kami warsikan, tapi ilmu :)".
Terakhir, bagaimana pun hasilnya, tetap bersyukur, Allah masih sayang kita, dengan menjauhkan kita dari hal yang Bathil dan selamat buat kalian yang berhasil berperang dengan nafsu :)
Oiya, ada yang ulang tahun ke Tujuhbelas hari ini, selamat ya sayaang :-*, semoga semakin dewasa dan always be the best :))
Share:  

Senin, 19 Mei 2014

Tentangmu Dua belas IPA Lima :)

Tentangmu, duabelas IPA lima

Awal ku menapaki jejak di Bahrul Ulum, aku menemukan kalian, Sepuluh Sembilan. Bersama Bapak tora, melewati masa peralihan dari sekolah menengah pertama. Beradaptasi dengan dunia pesantren yang penuh barokah. Menangis, pengen pulang, pengen boyong. Mewarnai hari-hari pertama kita. Saling mengenal dan memahami satu sama lain, bercekcok, beda pendapat, tidak suka, mbatin, dan hal-hal lain yang menjadi bumbu perjalanan kita. Outbond, PIL, merekatkan persaudaraan kita.

Sebelas IPA Lima, di bawah asuhan Ibunda Catur yang super disiplin dan energik, kita ditempa untuk menjadi Siswa IPA yang ilmiah. Bertemu dengan new comer. Romie, Mual, Nida, Rizka, Dewi dan Intan yang lucu-lucu. Membuka pintu lebar untuk mereka. Namun, kita juga harus berpisah dengan teman-teman yang menyenangkan, Dani, Rizki, Ani yang kata kalian sudah masuk Islam, Wiwin, Nisful yang suka xiu-xiu, Rifda, dan Nuro. Kerekatan kita mulai terjalin, lem-lem perekat persaudaraan semakin rekat. PKL yang hampir seminggu kita tinggal bersama di sebuah bis yang membawa kita menyusuri tepian utara pulau Jawa.

Duabelas IPA Lima. Kita bersama kembali. Bosan ? tentu tidak jika dengan kalian yang selalu membuatku tersenyum. Bertemu dengan sesosok Ayah yang sangat bijak dan penuh kasih sayang. Kita lalui hari-hari terakhir di sini. Menempati kelas di Kampus Induk yang diidamkan, bertetanggaan dengan adik kelas Putra. Berperang dengan materi UN yang memuakkan tapi sungguh bermanfaat. Hingga akhirnya, lapak kita digusur. Berbagi dengan aula, kita menempati kelas baru. Terima dengan senyuman. Berangkat pagi pulang sore. P3M tanpa lelah, dengan guru yang selalu semangat ’45 menempa kita dengan rumus-rumus yang mengenyangkan perut.

Abi Makhrus yang penuh dedikasi membimbing kita, anak-anak yang nakal, menjadi anak-anak yang baik, merubah mawar yang berduri, menjadi mawar yang indah. Mengajari kita arti kedewasaan. Selalu ada kejutan dengan beliau.

Dan kini, sepertinya ada belahan bumi lain yang memanggil-manggil kita untuk kita datang ke sana. Menuntut ilmu. Menjelajahi lautan ilmu lain,  untuk mendapatkan sebuah mutiara. Maafkan segala khilaf yang pernah kubuat. Menghapus bayangan wajahku di hidup kalian, aku rela, namun jangan kalian hapus namaku dari hati kalian. Kalian-lah bagian dalam sejarahku, yang akan kuceritakan kepada anak cucuku kelak.

Mengenal kalian, aku seperti mengenal Indonesia. Inilah miniatur kecil Indonesia, ragam suku budaya dan bahasa, berbeda asal muasal, berbeda ayah, berbeda ibu, berbeda warna kulit dan watak, namun kita tetap satu “Pondok Pesantren Bahrul Ulum, MAN Tambakberas, Dua belas IPA Lima”.

_Anna, Arina, Kafa, Dina, Bila, Isma, Farisah, Fathimah, Ferenia, Hima, Imah, Nani, Putri, Intan, Iin, Ken, Latifah, Ila, Mardliyah, Maul, Mual, Melinda, Nida, Aini, Fathani, Nonet, Tyas, Rizka, Bi’a, Salma, Hikmah, Ufi, Vara, Wuri_

I Love You, :-*

Semoga ilmu yang kita dapatkan selama disini, manfaat fid diin, wad dunya, wal akhirat :-)

Kulepas kalian dengan peluk hangat raga ini, tanda berpisahnya raga, namun hati ini tak akan berpisah. Sesibuk apapun kita kelak, jangan lupakan tawasul kepada para masyayikh, kyai dan guru, sesibuk apapun, jangan lupa untuk saling memberi kabar.

Kutunggu cerita kesuksesan kalian, disini, di tempat pertama kita bertemu.

*Tepat 15 Hari yang lalu, peluk hangat kalian kepadaku untuk yang terakhir, di sekolah ini. Tapi kelak masih akan ada peluk rindu kalian untukku :)
Share:  

Sabtu, 19 April 2014

Penjaja Suara

Hari ini, saya melakukan perjalanan pulang. Rindu rumah, padahal baru satu minggu lalu saya pulang. Di perjalanan Jombang - Tulungagung di sebuah bus, di bangku nomer 3 dekat jendela, saya menemukan satu pelajaran. 
Saat bus sampai di sekitaran kota Kediri. Ada seorang pengamen yang kira-kira berumur 30an. Menyanyikan sebuah lagu karyanya sendiri. Sebagaimana biasanya pengamen, dia terlebih dahulu melakukan basa-basi dengan berkata-kata yang intinya memohon derma.
Seusai mendendangkan dua lagu. Pengamen itu kembali bercerita. Dengan kata-kata bak seorang penyair. Pengamen itu melantunkan sebuah ayat al=Qur'an yang berisi kerusakan bumi. Menyinggung berbagai kemajuan zaman yang malah menjahilkan manusia. Menyinggung pemerintahan Indonesia yang jauh dari sempurna, namun tidak samapi menjatukan. Dan yang lebih mengagetkan, dia juga mulai merambah ke dunia maya untuk mempopularkan dirinya dan lagu karangannya ke jejaring youtube.
Mengamen bukanlah pilihannya, namun semua itu karena desakan. Dengan keilmuannya, bisa saja dia menjadi seorang motivator agama, penyanyi maupun penyair.

Hal itu semua, membuat pikiran negatif saya tentang pengamen selama ini hilang.Tidak semua pengamen itu buruk.Tidak semua pengamen itu melakukan pekerjaannya itu karena dia malas. Namun ada berbagai hal yang membuatnya seperti itu.

Share:  

Rabu, 16 April 2014

Yang Haq dan Yang Bathil

Alhamdulillah, lega, bahagia sekaligus prihatin. Perang telah selesai secara dzohir, namun batin masih harus berperang melawan kecemasan dan penantian panjang sebuah hasil.  Selama perang berlangsung, alhamdulillah, saya 100 % murni tanpa abal-abal. Jujur,dua bulan sebelum ujian,saya sempat bertransaksi dengan teman saya untuk membeli 'kertas hitam' untuk perang. Dua minggu sebelum hari yang ditunggu datang. Saya sempat mengobrol dengan teman terdekat saya mengenai transaksi itu, dan mereka berdua pun juga melakukannya. Oh Ya Robbi. Saya salah, saya berdosa. Dan akhirnya, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak menggunakannya.
Malam sebelum hari itu tiba, saya bermimpi mendapat 'kertas hitam' itu. Saat saya terjaga, saya berfikir, Ya Allah, saya sudah berjanji untuk tidak menggunakan itu, tapi kenapa saya bermimpi seperti itu.
Perang hari pertama sudah saya lewati dengan murni. Saya tidak perduli apa yang dilakukan teman-teman saya. Saya yakin dengan ilmu yang sudah saya dapatkan. Entah bagaimana hasilnya, Allah sudah menentukan.
Hari kedua dan ketiga, saya lalui juga dengan murni. Sebisa saya, meskipun 15 nomor saja yang yakin, dari 40 soal. Sisanya ?? saya isi lembar jawaban dengan terus sholawat dan berdzikir.
Selama 3 hari berlangsung, saya sempat heran. Mengapa stiap malam, saya selalu bermimpi mendapatkan 'kertas hitam' itu. Padahal saya sama sekali tidak mengharap kehadirannya. Memegangnya pun tak pernah.
Hari terakhir, saya menelpon orang tua, dan menceritakan kegalauan saya. Kegalauan akan hasil murni saya. Namun, Ibu saya memberi saya semangat, dengan berkata "Sudahala, yakin, Allah pasti melindungi orang-orang yang jujur, di sini yang di ruma selalu mendo'akan akan keberhasilan kamu nak". Adem rasanya hati saya mendengarnya.
Sepintar dan sepandai apapun orang tersebut, tapi jika sudah kepepet, pasti akan melakukan al yang bukan haq. Tapi tidak semua.
Allah bersama orang-orang yang jujur. Jangan pernah meragukan ilmu yang sudah susah payah Bapak dan Ibu Guru transferkan kepada kita. Sebisanya. Itulah hasil dan kemampuan kamu. Untuk hasil akhir, serahkan kepada Sang pemilik ilmu. Allah sudah menentukannya.

Laa haula walaa quwwata illa billah. Hashil kulla maqasidi bil mumtazYa Robb. Warzuqni 'ilman naafi'a
Share:  

Senin, 14 April 2014

Hari Ini

Layaknya pengantin yang hendak akad nikah (hahaha, kebelet apa ya ??), grogi sekali. Dag dig dug. Semalaman terfikirkan UN. Semua fikiran berkecamuk jadi satu, takut, grogi, tegang, nervous, semua berkumpul. Menenangkan hati dengan banyak-banyak sholawat. Dan saya tadi malam malah tidak belajar. Menyepi disalah satu kamar kosong, sendirian. Membuka laptop, memutar lagu-lagu sholawat banjari dan ber-sms ria. Berangkat minta do'a restu Orang tua dan pengasuh, Bismillah. Sampai di sekolah, semua berbisik-bisik tentang 'kertas hitam'. Ah, saya fikir, buat apa menggantungkan kepada hal seperti itu, meskipun saya tidak memungkiri, bahwa sempat terbesit saya juga ingin mendapat 'kertas hitam' itu. Saya membuat mindset pada diri saya, bahwa saya harus Yakin, Saya Sukses UN dengan Ridlo Alloh swt. Entah bagaimana hasilnya, itulah yang terbaik. Saya sudah berusaha maksimal dan berdo'a. Saya lewati UN hari pertama ini dengan rileks dan santai, bahkan saya sempat tidur (baca = ketiduran) agak lama pada dua mata pelajaran. Lisan tak berhenti bersholawat agar mendapat syafa'atnya. Insya Allah, :-)

Laa haula walaa quwwata illa billah. Tiada daya dan upaya dalam mengerjakan ujian, serta kekuatan ilmu, kecuali ada campur tangan Alloh swt. bersamanya. Berdo'alah, Alloh pasti mengijabah. Just You and Alloh penentunya. :-)
Share:  

Jumat, 04 April 2014

H - 10

Ada apa hari ini tadi ? Semakin gila. Pagi saya dan teman-teman kelas akhir sowan ke Kyai Sulthon. Trus saya ikut lomba kreasi Nadhom. Apa yang terjadi ?? Anda tahu ?? Saat ambil suara buat suluk, suara saya tidak mau keluar, wal hasil saya hanya mendesah seperti mengeluarkan bisa, haha -_-. Jadi omongan para warga. Lalu, saya sebagai Sutradara PK (Praktikum Kitab) menemani para aktris saya lomba. Sesampainya di Studio B MMA, nomor undian ketinggalan, dan saya harus secepat kilat lari ke pondok yang jauhnya 15 km untuk mengambilnya. Waktu sudah sampai kembali di studio, anak-anak sudah pada tampil. Ah >_<. Tapi tak apa, saya berbincang-bincang dengan adik kesayangan saya ^_^ dan bertemu dengan orang yang pernah membangunkan saya sewaktu UAMBN. Pulangnya makan bakso -_- dan berakhir dengan perut saya sakit :'(
Share:  

Minggu, 30 Maret 2014

selalu ada kejutan

Ah, masa akhir SMA ini bener-bener bikin ane semakin tenggelam dalam lautan kenangan. Ya, sebelum-sebelumnya, belum pernah ane nemuin guru dan temen-temen yang bener-bener spesial. Apalagi waktu kelas 3 ini, wali kelas ane bener-bener the best.
Cerita ini berawal dari rencana kelas ane buat ziaroh makam Masyayikh PPBU, pagi tadi sekitar jam 7.30, ane sama temen-temen nih, berangkat ke makamnya Kyai Usman, dilanjut ke makam Kyai Wahab. Pas keluar dari makam tuh, AbiMa (panggilan kita buat wali kelas :D) bilang, siap-siap ya, habis ini kita ke makamnya Gus Dur. Anak-anak pada kegirangan. Dalam hati ane, tuh kan bener, dari tadi ane sama Intan udah su'udzon kalo kita bakalan ke Gus Dur, tapi kayanya ngga mungkin banget. Tapi tadi tu bu Elik uda ngasi tanda-tanda gitu. Dari mulai manasin mesinnya BIS sekolah sama suruh bawa barang-barang berharga yang  notabene adalah uang :D.
Ah, bener-bener kejutan. Dan parahnya di dalem BIS uda disiapin makan juga. Oh... Di dalem bis, temen-temen nyanyi-nyanyi seneng-seneng (lupa kalo mau Un kali ya). tapi seru juga, apalagi liat Maul yang hafal banget sama lagu koplo (haha, peace). Abis do'a bersama di Gus Dur, kaga lupa tuh, buat foto-foto dulu. Blanja-blanja dengan uang seadanya -_-.
Jam 11 kita main ke rumahnya Romie Salma (kembaran nama ane :D). Kaga nyangka banget, anak-anak yang dari tadi bikin rame, diem tak berkutik di rumahnya Romie (takut ama Abahnya kali ya, hehe). Muterin rumahnya yang gede banget, makan kerupuk, rambutan sama gigitin tebu.
Pulangnya, temen-temen kembali rame. Malah lebih rame kayanya. Yaah, namanya juga catatan akhir, pastinya dibikin biar berkesan banget dong. Mampir dulu ke aloon-aloon, ada yang sholat, sekedar muter-muter ama beli makanan.
Nyampe sekolah, dengan wajah sumringah dan pamer, balik ke kelas. Dan ente tau apa yang terjadi ?
Oooh, badai menimpa. Pak Tris marah besar dan memboyong komputer kelas ane, tau kenapa ? dengan dalih kelas ane pas ditinggal tadi kipasnya masih nyala lah, ini lah, itu lah. Betapa tergoncangnya ane sama temen-temen ane. Komputer hasil jerih payah daftar ulang kelas sepuluh, diambil dengan terpaksa dan sangat tidak terhormat.
Ah, entah gimana reaksi temen-temen beesok -_-"
Share:  

Kamis, 27 Maret 2014

Friend :-)

Haha, sebel tapi masi bisa senyum :-). Pertama, berangkat ke sekolah pagi-pagi, nyampe sekolah sepinya minta ampun, kaya kuburan. Tanya ke temen, anak-anak pada kemana ? ngga berangkat katanya. Oh My, ternyata sebagian dari mereka bersepakat buat ngga masuk sekolah, maklumlah, hampir 3 minggu dikuras semua tenaga, pikiran dan finansial. Yap, UAMBN disusul Utek sama UAM, dan terakhir TO ke-4 alias penghujung TO sebelum berperang 14 April mendatang. Ane uda yakin kalo ntar disekolah ngga ngapa-ngapain. Tuh kan bener, untuk temen-temen deket ane pada berangkat. Bingung, mau ngapain. Menyesal ? -sedikit- tapi ngga pa-pa lah. Akhirnya anak-anak sibuk dengan pekerjaan masin-masing, ada yang main 'hape', liat film, belajar, de-el-el. Ane sendiri lagi khataman novel (jiaaah, novel pake dikhatamin, Qur'an tuh khatamin) .__.
Kesadaranku untuk belajar pada akhirnya tumbuh. Gabung sama anak-anak yang lagi bahas soal TO kemaren. Kebiasaan cewek kalo lagi pada ngumpul bareng, pasti, 98 % ujung-ujungnya ngomongin orang. kejadian beneran deh, saat si Intan dateng (dia abis ikut TOP UN, biasalah, anak pintar :D) langsung ngegosip. Soal-pun ditelantarkan, kasiaaan :'). Tapi ngegosipnya baik ko. Sembari menulis kesan pesan di buku note-nya anak-anak, kita ngomongin dari Sabang sampe Merauke. Akibat ngegosip 1 jam lebih, ni perut keroncongan. Waktu istirahat, ane, Intan, Kafa, Bila ama Nonet jalan-jalan buat manjain perut di sekitar Kampus Timur. Uda kenyang, balik lagi ke kelas.
Kenapa ya, temanya hari ini 'flashback' mengingat masa lalu. Mungkin karna bentar lagi kita akan berpisah hiks.... :'(. Nginget-nginget dulu pas belum saling kenal, sebelnya minta ampun. Dan setelah 3 tahun bersama, rasa-rasa itu hilang menjadi kasih sayang teman :-).
Indahnya persahabatan.
Jam 11 dirasa uda terlalu lama nganggur, mending balik ke pondok masing-masing. Ups__ perut laper lagi minta makan siang, kita berlima (Intan, Nonet, Kafa, Bila sama ane) memutuskan untuk jalan-jalan ke Kota (Kota Bahrul Ulum, _yayasan_). Rencana mau makan di depot nasi goreng favorit. Jalan deh bareng-bareng ke sana. Kecuali ana sama Nonet yang naik sepeda mau ke Bank (cielah, siapa tuh yang mau ngapelin pak teller).
Sepertinya belum rejeki, capek-capek jalan ke tempatnya, ehh tau-tau 'Sold Out' nasi sudah habis. Oh... oh... makan apa ??. Bingung deh mau makan bareng ke mana. Ane yangs edari tadi nunggu antrean di Bank, dikejutin sama anak-anak yang ikutan duduk antre. "Kalian ngapain ?" "Cari udara, mau ngadem, kan ada AC" aduuuh, ni anak-anak, uda pada gede, uda mau lulus SMA, masi aja kaya anak kecil. Haha, tapi ga pa-pa, ini yang menjadi cerita.
Di bank uda selesai, kita putusin buat makan bakso di warung deket Bank. Belum pernah ane makan bareng teman-teman kaya gini. pernah si~~ di kelas -_-". Seneng campur sedih. Jarang-jarang kita bisa bareng kaya gini. Dan sebentar lagi, kita akan memperjuangkan cita-cita.
Ya, rasa sayang akan semakin membuncah saat kita akan berpisah. Waktu yang mempertemukan kita, dia jugalah yang memisahkan kita.
Share:  

Selasa, 18 Maret 2014

Menulis

Dan aku-pun kembali menulis.
Ya, memang ini yang bisa aku lakukan sekarang. Dengan kondisi hatiku yang sangat, ah... entah. Selain berkeluh kesah pada Sang Khaliq, aku hanya bisa menulis di sini, di duniaku yang maya, yang tak semua orang mengetahui, yah meskipun demikian, aku merasa sedikit lega. Aku bagaikan tengah di padang pasir yang terhampar luas. Dengan pasir disekeliling, aku sendiri, menjulang. Tak ada kehidupan lain. Meski nyatanya, di sini adalah sebuah kota kecil yang padat penduduk. Tapi aku merasa sendiri. Sepi. Sunyi. Tawaku hanya tawa palsu, senyumku adalah tangis. Aku merasakan atmosfer yang dulu aku rasakan (baca=Badai Desember).
Menulis, menulis dan menulis. Itu yang bisa mengobati sedikit kesunyianku. Bersua dengan-Nya, juga membuatku pergi dari kesepian. Mengapa semua begini ? ah entah-lah. Allah sayang padaku. Ya ! aku sangat yakin, Allah sayang kepadaku. Meski aku sangat hina dan kotor. Allah menguji kesabaranku. Disela-sela pikiranku yang kalut akan Ujian Akhir, Allah juga memberiku Ujian Kebatinan.
Ini masih awal, belum akhir. Jikalau merasa sendiri, Allah selalu bersama kita. Biarkan mereka ba-bi-bu dengan kamu, Sal. Masih banyak orang yang mau berteman denganmu, yang sayang padamu, meski abstrak dan hanya dalam mimpi. :-)
Share:  

Senin, 17 Maret 2014

Ah

Robbi....
Kenapa dia berubah, apakah aku terlalu buruk untuknya sehinga dia enggan berbicara, bahkan menyapaku. Apa aku salah ? kalau iya, katakan apa salahku, mungkin akan kuperbaiki. Kau yang selalu membuatku tersenyum :-), membuatku tertawa, membuatku lebih bersemangat, membantuku untuk lebih dewasa, kadang juga bisa membuatku kekanak-kanakan, bahkan membuat aku sedihpun pernah :'(. Tapi kini, hari-hari ini, apa yang membuatmu berubah ?.
Apakah aku terlalu buruk ?
Apakah aku terlalu posessive ?
Apakah aku manja ?
Apakah aku membuatmu sakit hati ?
Apakah karena aku terlalu,
Apakah aku terlalu hina ?
Apakah aku.....?
Ah, entahlah.
Semua menguji batinku. Aku ingin semua kembali seperti sedia kala. Dengan kedamaian dan kasih sayang :-)
NB : Entah kapan engkau akan membaca ini, akupun tak tahu, atau bahkan nihil, tidak sama sekali.
Share:  

Minggu, 16 Maret 2014

Asing

Aku layaknya orang asing di tempatku sendiri. Aku tengok sekeliling, ini memang tempatku, tapi bukan seperti yang dulu. Gedung kuning (baca=penduduknya) telah berubah. Keadaan ini melemparkanku ke memoar dua tahun lalu. Disaat dimana aku masih sangat asing dengan tempat ini. Namun aku menyukainya. Dengan orangnya yang ramah, baik hati, damai dan penuh kasih sayang. Mereka mengajariku arti hidup mandiri, belajar bermasyarakat. Aku digembleng dengan cara mereka yang sangat dewasa, yaah meskipun sifat kekanak-kanakan masih tersisa dalam diri mereka. Tapi kedewasaan itu lebih dominan. Membuat aku nyaman. Meski kadang harus menangis. Jauh dari keluarga, namun aku punya keluarga kecil di sini yang hangat akan kasih sayang dan kekeluargaan.
Sekarang....
Aku terlempar lagi ke masa sekarang. Melihat fakta. Melihat dunia. Tempatku sekarang berubah, jauh, jauh, bahkan lebih jauh dari jarak Jombang - Jakarta. Aku serasa asing. Kekeluargaan, kedamaian dan kasih sayang seakan luntur dari tempat ini. Kini, egoisme merajalela, kekeluargaan sirna, kedamaian dan kasih sayang telah melayang. Konyol, kekanak-kanakan, iri, acuh, ahh semua itu. Itu, itu sekarang. Aku-pun tak menampik bahwa aku juga bisa saja salah satu dari mereka. Aku bukan bermaksud menyalahkan, ataupun bagaiman, aku hanya ingin berbagi isi hatiku yang selama ini aku pendam. Disela-sela persiapan Ujian Akhir, batinku-pun ikut teruji.
Inilah kehidupan, ini masih dalam lingkup kecil, bagaimana kelak ? Ah, membayangkan, rasanya aku tak sanggup. Roda akan terus berputar, ada kalanya di atas atau di bawah. Begitu juga hidup, ada kalanya harus damai, ada kalanya harus pecah.
Harapan, semoga Sang Maha Pembolak Balik hati, senantiasa mempersatukan kita dalam balutan kasih sayang dan kedamaian. Amiin.
Share:  

Mom :*

Betapa tidak bahagia, kemaren Ibu datang mengunjungiku. meskipun baru satu minggu aku balik ke Pesantren (setelah sakit). Ibu seorang diri ke sini, naik kereta. Aku kaget pas  tiba-tiba Ibu masuk ke kamarku. Membawakan makanan :-). Meninggalkan adikku yang masih kecil di rumah dengan Abi. Ke sini hanya untuk memastikan keadaanku, apakah sudah ada perubahan. Niatnya sih nginep di sini, tapi aku pengen nginep di rumah tante aja, biar bisa liat TV sama main hape (hehehe). Merasakan peluk hangat Ibu. Besoknya, pagi-pagi aku dianter ke sekolah (pertama kalinya), berhubung cuma ujian praktek, aku pulang lebih awal, dan Ibu sudah menungguku di gerbang. Jalan-jalan cari makan, cari macem-macem deh pokoknya. Seneeeng banget, merasakan kasih sayang ibu.
Ya, itulah perjuangan ibu yang sangat sayang kepada anaknya. Tapi, aku sudah ngasih apa ke beliau berdua ? ah, Ya Allah. 
Share:  

Jumat, 14 Maret 2014

Hitungan Bulan

Tahun 2012, April, Pas kelas X
"Selamat berjuang UN ya kakak-kakak, semoga lulus semua." Dengan wajah masih polos (Ha ? emang iya ?). Melihat kesibukan kakak kelas yang lagi pusing mikir ujian, sini malah enak-enakan menikmati libur, masuk siang, nonton tv kalo pagi, de-el-el, hehe~
Tahun 2013, April, Pas kelas XI
"Perasaan baru kemaren kakak-kakak (baca=kakak kelas yang UN tahun 2012) UN-nya, sekarang gantian kakak-kakak ini, wah cepet ya, fighting yaa." Wajah sedikit tua (Hee...?) soalnya uda punya adik kelas, hihihi. Kalo kali ini, menikmati liburan UN di pondok, nangis darah gabole pulang (hiks :'(" ).
Dua tahun sudah melihat kesibukan dan kepenatan kakak kelas menempuh Ujian Akhir yang bagaikan monster (alay dee~ situ aja kellees yang ngira monster :-P). Pikiran penuh, sensitif, gampang marah, seenaknya sendiri (maapin yey kalo ada kakak-kakak yang baca). Sudah dua tahun juga melepas kakak-kakak yang muwadda'ah dengan tangis haru perpisahan.
Dan kini, Tahun 2014, 14 April (satubulanlagi)
Giliran aku dan kawan-kawan memperjuangkan nasib belajarku selama 3 tahun (kurang 3 bulan). Diperjuangkan hanya dalam waktu tiga hari, satu harinya berperang sekitar 5 jam. Dulu sering bilang "ah, masi lama ya UN-nya" "ko lama banget kaga kelas 3". Sekarang, kata itu berganti, "satu bulan lagi aku berjuang". Usaha sudah kemaren di belakang, do'a dan riyadhoh juga sudah, tinggal ikhtiarnya aja. Satu bulan lagi, oh Ya Robb... Semua sama, semua sudah usaha, do'a dan tawakkal, tinggal gimana kita di mata-Nya. Ya Robbi Ya Khoiro Mu'thi. Hamba menunggu janji-Mu, bahwa :
ادعوني أستجب لكم
Hamba sudah berusaha, berdo'a dan memohon pertolongan kepada-Mu, maka, ijabahi-lah do'a hamba Ya Khoiro Mu'thi. ^_^

Share:  

Entah

Sejak kapan saya merasakan ini ? entah. Apakah ini sayang ? entah. Ini perhatian ataukah kasihan ? entah. Tulus ataukah pura-pura ? entah. Selamanya ataukah sementara ? entah. Ah, saya sama sekali tidak tahu menahu tentang ini. Saya hanya bisa berteman dengan entah.
Saya merasakan entah, yang terjadi pada diri saya. Entah telah menguasai hati dan fikiran saya. Apakah juga terfikirkan olehnya, entah. Ah, entahlah...
Share:  

Sebab itu...

Akhir-akhir ini gue tiap pagi harus masak sendiri, bayangin deh tu, pagi abis subuh ada ngaji tafsir, abis ngaji ya, gue mesti ke pedagang sayur buat beli bahan makanan, tiap hari gue cuma makan sayur bening tahu sama sawi, ah, entah sampai kapan. Abis itu tuh ya, gue masak, kaga boleh pake penyedap makanan dan hal-hal yang berbau gorengan. Huuufh, sabar aja deee~.
Kata anak-anak gini "Ih, mba Salma kaya ibu-ibu rempong, tiap hari masak, waah bekal calon istri tuh". Aduh sepantas itu apa ya gue buat membina suatu keluarga, hahaha~~. Ketawa aja dee``. Eng.. pas pertama nyoba, aduh rasanya hambar, cuma pake garem, gula, sama bawang putih - merah cincang doang. Pas anak-anak nyobain, pada komen tuh, masakannya hambar. Yaah, terserah mereka lah~
Ini tuh bermula dari gue yang lagi dikasi cobaan -sakit-. Sakitnya kaga tanggung-tanggung, "Liver". Denger diagnosa dokter, kaget gue. Selama ini alhamdulillah gue kaga pernah sakit yang aneh-aneh gitu, baru ini gue ngalaminnya. Disaat akhir mau ujian nasional, gue dikasi cobaan ini. Ya Allah, gue harus bersabar. Seminggu gue di rumah, balik-balik waktu UAMBN, selama di sini, gue harus bener-bener jaga kesehatan dan makanan. Makan ini kaga boleh, itu kaga boleh. Bolehnya cuma ini doang. Gini ya kalo orang sakit itu, kaga enaaak :'(. Semua yang disuka kaga boleh dimakan. Tiap hari makanannya obat mulu. Seabrek obat harus diabisin. -_-
Sabar sayang, semangat sembuh ! Isyfa'ni Ya Robb !
Share:  

Rabu, 12 Maret 2014

Bagaimana di mata-Nya

33 hari lagi...
Bilangan ganjil yang (kebanyakan) digunakan dalam menghitung jumlah wirid saat selesai sholat. Tepat tanggal 7 Juli 2011, aku memulai kehidupanku di sini. Belajar selama 2 tahun 9 bulan 7 hari, akan dipertaruhkan (hanya demi ijazah) dalam waktu 3 hari. Ngalor, ngidul, ngetan dan ngulon sudah diarungi. Jatuh-bangun, tangis-tawa, sedih-bahagia, benci-rindu dan hal-hal lain, telah terlewati dengan teman-teman sejawat. Mengingat-ingat saat pertama kali bertemu, dengan wajah polos dan lugu, saling berkenalan, kini semua sudah berbeda, itu 2 tahun lalu.
Dua tahun sembilan bulan yang akan segera berakhir.
Semua sama, belajar, mati-matian siang malam melahap soal dengan berbagai gaya dan mode. Berdo'a dan riyadhoh, semua juga melakukannya (karena kita tinggal di Pesantren). Bertawasul, tirakat, dan tabarruk, semua juga melakukannya. Berhubungan dengan-Nya di sepertiga malam, juga semua melakukan. Semua usaha sama. Semua do'a juga sama, ingin Lulus dengan nilai terbaik dan ilmu yang manfaat.
Semua sama, tinggal bagaimana di mata Allah. Tapi jangan khawatir, Allah sayang kita semua ^_^. Do'a kita Insya Allah diijabahi oleh-Nya. Amiin
Ya Rohman Ya Rohim, berikanlah yang terbaik untuk hamba dan teman-teman hamba.
Share:  

Sabtu, 08 Februari 2014

D(o)'A

Aku yang mengawali ini semua. Ah... wanita macam apa aku. Malu, malu sekali. Rasanya wajahku tercoret-coret. Aku kalah dengan nafsu. Dia lelaki yang baik, dia lelaki aholih, dia lelaki 'alim. Dia, ah... dia. Hati ini serasa terisi, ah entah apa yang membuatku begini. Melihat bayangnya menentramkan jiwa. Mendangar namanya aku bahagia. Melihat wujudnya aku jatuh cinta. Ya Allah. Ya Robbi, inikah kekuasaan-Mu. Kau sang Maha Pemberi cinta, jika aku memang tulang rusuknya, jagalah dia. Jagalah hamba, jagalah kami. jagalah kami dari cinta nafsu setan, jauhkan kami dari fitnah dunia. Pertemukanlah kami, diwaktu yang telah Engaku tetapkan. Pertemukan kami dalah balutan cinta kasih halal-Mu. Birahmatika Ya Arhamar Rahimiin. Kepada Sang Maha Pemberi Cinta-lah, namamu selalu kusebut.
Share: